Dampak El Nino, PPU Hadapi Ancaman Panas Ekstrem

BPBD PPU mengingatkan potensi peningkatan suhu dan cuaca ekstrem, akibat fenomena El Nino.
Devi Nila Sari
1.2k Views

Kaltim.akurasi.id, Penajam Paser Utara – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Penajam Paser Utara (PPU) mengingatkan potensi peningkatan suhu dan cuaca ekstrem, akibat fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi bersamaan dengan musim kemarau tahun ini.

Kepala Pelaksana BPBD PPU, Nurlaila, mengatakan kondisi cuaca di Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur, memiliki karakter yang sangat dinamis dan kerap berbeda dengan pola di Pulau Jawa.

“Kalimantan beda dengan Jawa, kadang-kadang kita musim kemarau tapi kondisinya hujan, kadang-kadang kita musim hujan tapi kemarau. Sangat dinamis sekali perubahannya untuk Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur,” ujar Nurlaila.

Meski demikian, ia menyebut prediksi dari BMKG terkait fenomena El Nino selama ini cenderung sesuai dengan kondisi di lapangan.

“Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang lalu, meskipun dinamis, prediksi BMKG terkait El Nino sebagian besar sesuai,” jelasnya.

Nurlaila menuturkan, El Nino yang terjadi memiliki kategori berbeda, mulai dari lemah hingga moderat. Namun, dampaknya sangat bergantung pada waktu kemunculannya terhadap musim yang sedang berlangsung.

“Memang ada El Nino kategori lemah atau moderat. Tapi yang memperparah, apakah dia datang di musim kemarau atau musim hujan, serta bagaimana kondisi riil cuaca yang juga dinamis,” katanya.

Untuk tahun ini, El Nino diprediksi muncul saat musim kemarau, yang berpotensi meningkatkan suhu secara signifikan.

“Prediksinya di tahun ini El Nino datang di musim kemarau. Sehingga panasnya dua kali. Sudah kemarau, panas, ditambah fenomena El Nino, jadi panasnya bisa dua kali,” ungkapnya.

Terkait kenaikan suhu, ia menyebut, peningkatan bisa mencapai beberapa derajat dari kondisi normal, tergantung intensitas El Nino dan dinamika cuaca di lapangan.

“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta dampak kesehatan akibat suhu panas yang meningkat selama periode tersebut,” pungkasnya. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana