Dishub Samarinda Ungkap Alasan Parkir Liar Terus Bermunculan: Warga Tak Tertib

Persoalan parkir liar di Samarinda dinilai tak cukup diselesaikan dengan penertiban juru parkir. Dinas Perhubungan Samarinda justru menyoroti perilaku masyarakat yang masih memarkir kendaraan di sembarang tempat meski pemerintah telah menyediakan fasilitas parkir.
Fajri
By
2.3K Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda menilai persoalan parkir liar tidak semata-mata disebabkan keberadaan juru parkir (jukir) liar. Perilaku masyarakat yang masih memarkirkan kendaraan di sembarang tempat juga dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat praktik tersebut terus bermunculan.

Kepala Dishub Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu, mengatakan parkir liar akan sulit dihilangkan apabila masyarakat masih memilih memarkir kendaraan di lokasi yang tidak semestinya, meski pemerintah telah menyediakan fasilitas parkir.

“Parkir liar muncul karena masyarakatnya tidak tertib untuk parkir,” tegas Manalu.

Menurutnya, penertiban saja tidak cukup menjadi solusi jangka panjang. Upaya tersebut harus dibarengi kesadaran masyarakat untuk menaati aturan lalu lintas, termasuk menggunakan fasilitas parkir yang telah disediakan pemerintah.

Salah satu fasilitas yang dapat dimanfaatkan masyarakat, kata Manalu, adalah gedung parkir Pasar Pagi Samarinda. Fasilitas tersebut masih dapat digunakan hingga pukul 23.00 WITA.

Selain itu, pemerintah juga telah menyediakan sejumlah lokasi parkir lainnya. Karena itu, masyarakat didorong membiasakan diri menggunakan tempat parkir resmi dan tidak memarkir kendaraan di sembarang lokasi.

“Kalau selama kita tidak tertib, selama itu juga pekerjaan kami hanya menertibkan saja. Menertibkan saja bukan solusi,” katanya.

Manalu menegaskan, Dishub tetap akan melakukan penindakan terhadap pelanggaran parkir. Namun, penindakan secara terus-menerus dinilai tidak akan menyelesaikan persoalan apabila tidak diikuti perubahan perilaku masyarakat.

Dishub Dorong Rekayasa Sosial

Manalu mengatakan penanganan persoalan transportasi dan parkir juga membutuhkan pendekatan social engineering atau rekayasa sosial. Pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui berbagai penataan fisik maupun pengaturan perilaku pengguna jalan.

Salah satu contohnya adalah pemagaran median jalan. Menurutnya, langkah tersebut dapat mencegah masyarakat memanfaatkan celah median untuk melintas atau melakukan aktivitas lain yang tidak sesuai peruntukannya.

“Sekali lagi saya mengajak masyarakat untuk disiplin berlalu lintas dan disiplin parkir, supaya jukir-jukir liar itu tidak ada,” imbuhnya.

Sementara itu, terkait rencana penerapan parkir berlangganan secara daring yang sebelumnya disampaikan Wali Kota Samarinda Andi Harun, Manalu mengatakan skema tersebut memiliki mekanisme tersendiri.

“Kalau parkir berlangganan itu nanti konsepnya berbeda,” jelasnya. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana