Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan tidak semata-mata dipengaruhi cuaca panas dan musim kemarau. Aktivitas manusia justru dinilai menjadi faktor dominan yang memicu munculnya kebakaran.
Dosen Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis Universitas Mulawarman (Unmul), Chandra Boer, menyebut sekitar 99 persen kebakaran hutan dipicu aktivitas manusia. Mulai dari pembukaan lahan hingga penggunaan api yang tidak terkendali di sekitar kawasan hutan.
“99 persen kebakaran hutan itu akibat manusia. Manusia yang melakukan kebakaran, bekerja dekat-dekat dengan hutan, kemudian api tidak terkendali,” ujar Chandra.
Menurutnya, kebakaran yang terjadi secara alami memang memungkinkan, tetapi peluangnya relatif kecil. Kondisi panas dan kering tidak serta-merta membuat hutan terbakar tanpa adanya sumber api.
Sumber api tersebut, kata Chandra, umumnya berasal dari aktivitas manusia. Di antaranya pembukaan lahan, penggunaan api untuk kebutuhan tertentu, hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan.
Meski demikian, kondisi iklim ekstrem dapat memperbesar risiko kebakaran. Kemarau panjang membuat vegetasi kehilangan kadar air sehingga lebih mudah terbakar ketika terkena sumber api.
Kondisi itu menjadi semakin rentan karena sebagian kawasan hutan di Kalimantan telah mengalami kerusakan dan degradasi selama puluhan tahun.
“Kalau kondisi hutan kita bagus, insya Allah lebih kuat. Karena dulu yang terbakar itu biasanya hutan tanaman. Hutan alam itu jarang terbakar,” jelasnya.
Kemarau Panjang Memperbesar Risiko
Chandra membandingkan kondisi kekeringan saat ini dengan fenomena El Nino pada 1982–1983. Saat itu, musim kering berlangsung sangat panjang hingga hampir 10 bulan tanpa hujan di sejumlah wilayah Kalimantan.
Meski kemarau saat ini belum separah kondisi pada periode tersebut, ia mengingatkan ancaman karhutla tetap perlu diwaspadai. Kekeringan selama dua hingga tiga bulan saja, menurutnya, sudah cukup membuat vegetasi menjadi lebih rentan terbakar.
Ia menegaskan, titik awal kebakaran pada umumnya tetap berkaitan dengan keberadaan sumber api yang berasal dari aktivitas manusia. Namun, kemungkinan adanya unsur kesengajaan dengan motif tertentu juga tidak dapat diabaikan dan harus dibuktikan melalui penyelidikan.
“Manusia itu dekat dengan api. Mereka menggunakan api untuk kepentingan hidup sehari-hari. Kalau api itu tidak bisa dikendalikan, bisa jadi kebakaran hutan,” imbuhnya.
Karena itu, Chandra menilai penanganan karhutla tidak boleh hanya mengandalkan pemadaman setelah api membesar. Pemerintah dan pengelola kawasan harus memperkuat pencegahan serta pengawasan sejak sebelum memasuki puncak musim kemarau.
Setiap pengelola kawasan hutan, kata dia, juga perlu memiliki tanggung jawab yang jelas dalam menghadapi potensi kebakaran, termasuk menyiapkan personel dan peralatan pemadam.
“Kalau sudah terjadi kebakaran biasanya memang tidak mungkin dipadamkan. Walaupun peralatannya canggih, di mana-mana kalau ada kebakaran besar itu hanya bisa diisolasi, diperkecil, jangan sampai terus membesar,” ungkapnya.
Menurut Chandra, tanggung jawab penanganan karhutla juga perlu diperkuat pada masing-masing pengelola kawasan. Sebab, jika seluruh kawasan hutan di Kaltim hanya mengandalkan satu lembaga, kemampuan pengawasan dan penanganan di lapangan akan terbatas.
Sumber Air Perlu Disiapkan Sebelum Kemarau
Selain personel dan peralatan, Chandra mendorong pemerintah maupun pengelola kawasan menyiapkan sumber air di wilayah yang rawan karhutla.
Kolam atau tempat penampungan air, menurutnya, perlu dibangun dan disiapkan sebelum musim kemarau tiba, terutama di kawasan yang jauh dari sumber air alami.
Ketersediaan sumber air tidak hanya penting untuk mendukung proses pemadaman, tetapi juga membantu satwa liar yang kehilangan habitat dan sumber air akibat kebakaran.
“Kalau tidak, bayangkan saja kita kehausan dan tidak ada sumber air. Untuk memadamkan api, sumber air juga menjadi masalah,” jelasnya. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id