Oleh: Yasinta Erikania Daniartie
Siang itu, 21 April 2026, panas tidak hanya turun dari langit Samarinda. Ia memantul dari aspal, dari pagar kawat yang ditarik tegang, dari dada orang-orang yang akhirnya memilih bersuara.
Di depan gerbang kantor gubernur, massa berdiri dalam gelombang yang tak benar-benar rapi. Ada yang berteriak, ada yang berdebat, ada yang hanya diam menyimpan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan.
Di antara mereka, ada yang tak biasa.
Seorang lelaki berdiri dengan tongkat di tangannya. Langkahnya pelan, tapi kehadirannya seperti garis yang memisahkan satu cerita dari cerita lain.
Namanya Ali. Ia datang bukan untuk menjadi pusat perhatian. Ia datang karena selama ini, mereka terlalu lama berada di pinggir.
Hari itu adalah pertama kalinya kelompoknya turun ke jalan.Forum Peduli Penyandang dan Atlet Disabilitas Indonesia—KOPPADIS. Nama yang panjang, tapi sering kali tak cukup panjang untuk menjangkau perhatian pemerintah.
“Kami sudah lama tidak dapat bantuan,” katanya kepada wartawan Akurasi, hampir seperti mengingatkan dirinya sendiri.
Kalimat itu tidak dilempar ke udara seperti orasi lain. Ia jatuh pelan. Berat. Dan entah kenapa, terasa lebih lama tinggal.
Di masa Awang Faroek, mereka masih menerima sesuatu yang sederhana tapi berarti. Di masa Isran Noor, itu masih berlanjut, bahkan sempat bertambah. Bukan jumlahnya yang mereka ingat. Tapi perasaan bahwa mereka masih dihitung.
Kini, di masa Rudy Mas’ud, bantuan itu berhenti. Tanpa banyak penjelasan. Tanpa banyak suara. Seperti lampu yang dimatikan di ruangan yang masih dihuni.
Di dekat Ali, seorang perempuan duduk di kursi roda. Ia memegang karton kecil dengan tulisan tangan yang sedikit bergetar. “Kami Tidak Butuh Janji, Kami Butuh Hidup.”
Tulisan itu tidak besar. Tidak mencolok. Tapi justru karena itu, ia terasa seperti bisikan yang terlalu jujur.
Di sisi lain, suara massa membesar. Ada yang meneriakkan angka Rp25 miliar. Ada yang menyebut kata-kata besar dinasti, korupsi, pengawasan, kekuasaan.
Kata-kata yang keras, seperti batu yang dilemparkan berulang-ulang ke dinding yang sama. Lalu, di antara semua itu, sesuatu yang sunyi muncul.
Dupa.
Seseorang menyalakannya tepat di depan gerbang. Asapnya tipis. Nyaris tak terlihat. Tapi perlahan naik, seolah mencari sesuatu yang tak pernah benar-benar ada.
Ali menatapnya lama.
“Barangkali suara kami memang harus jadi asap dulu,” katanya.
Tidak ada yang menjawab. Di negeri yang terbiasa dengan angka besar, tuntutan mereka terdengar terlalu sederhana.
Bantuan sosial, sekali setahun. Pekerjaan, yang tidak memilih tubuh. BPJS, yang benar-benar bisa digunakan saat sakit datang tanpa izin.
Permintaan yang, bagi banyak orang, bahkan tidak perlu disebut sebagai tuntutan. Tapi di sini, itu harus diperjuangkan.
“Kalau sakit, kami bingung,” suara lain muncul dari belakang. “BPJS tidak aktif. Mau berobat, harus bayar. Mau tidak berobat… ya tunggu saja.” sambung salah seorang dari kelompok Ali.
Kalimat itu menggantung. Tidak selesai. Seperti banyak hal dalam hidup mereka.

Di balik pagar, gedung itu berdiri seperti biasa. Dingin. Tegak. Tidak bergerak. Tak ada wajah yang muncul. Tak ada suara yang benar-benar turun.
Sementara di luar, orang-orang terus berbicara dengan cara mereka masing-masing. Ada yang berteriak. Ada yang menulis di karton. Ada yang hanya berdiri, berharap dilihat.
Ali menggeser tongkatnya sedikit. “Kaltim ini, Provinsi besar,” katanya pelan. “Tapi kadang kami tidak tahu, kami ada di bagian mana.”
Asap dupa itu terus naik. Ia tidak pernah kembali ke tanah. Ia tidak pernah membawa jawaban.
Hanya naik, perlahan seperti nama-nama yang perlahan hilang dari daftar yang pernah mencatat mereka.
Dan di tengah terik siang itu, pertanyaannya tetap sama: Berapa banyak suara yang harus berubah jadi asap, sebelum akhirnya dianggap ada?
Editor: Redaksi Akurasi.id