Kaltim.akurasi.id, Kutai Timur – Bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di Kecamatan Wahau, Kabupaten Kutai Timur masih mengalami kelangkaan. Akibat hal ini, Pertalite eceran menyentuh harga Rp25 ribu per liter.
Seorang warga setempat, Arthur, menyebutkan bahwa distribusi BBM sebenarnya sudah berjalan normal, namun lonjakan harga masih dirasakan masyarakat, terutama di luar SPBU.
“Sudah mulai stabil sih, tapi harganya memang masih mahal. Ada yang jual sampai Rp20 ribu per liter, bahkan ada yang Rp25 ribu sampai Rp30 ribu,” tutur Arthur saat dikonfirmasi, Sabtu (18/4/2026).
Ia menjelaskan, harga BBM di SPBU resmi relatif tetap sesuai ketentuan, yakni Rp10 ribu per liter. Namun, tingginya permintaan membuat antrean terus terjadi, meski tidak separah informasi yang beredar.
“Kalau di SPBU harganya normal. Antrean memang ada, tapi itu sudah biasa. Tidak sampai puluhan kilometer seperti yang dibilang orang,” jelasnya.
Masyarakat Duga Ada Oknum Timbun BBM
Menurut Arthur, kelangkaan BBM yang sempat terjadi bukan disebabkan terhentinya pasokan, melainkan dipicu distribusi yang tidak merata serta aktivitas penimbunan oleh oknum tertentu.
“Kiriman BBM sebenarnya tetap ada. Bahkan pihak SPBU sering umumkan di media sosial kalau ada pasokan masuk. Tapi ya kemungkinan ada yang menimbun juga,” katanya.
Ia juga menyoroti peran pedagang eceran yang dinilai memanfaatkan situasi dengan membeli dalam jumlah besar lalu menjual kembali dengan harga tinggi.
“Kalau panick buying dari masyarakat umum tidak terlalu ada. Tapi pedagang eceran ini yang beli banyak, lalu dijual lagi dengan harga tinggi,” tambahnya.
Selain itu, kondisi diperparah oleh insiden kebakaran salah satu fasilitas SPBU beberapa waktu lalu. Meski demikian, Arthur menegaskan ,bahwa kelangkaan sudah terjadi sebelum insiden tersebut.
“Sebelum kejadian itu, memang sudah mulai langka. Setelah ada SPBU yang terbakar, kondisinya makin parah,” ungkapnya.
Saat ini, di kawasan Wahau–Kongbeng terdapat tiga SPBU dan satu pertashop yang baru beroperasi. Namun, jumlah tersebut dinilai belum mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.
Arthur menilai, kondisi wilayah yang masih berstatus kecamatan turut memengaruhi distribusi BBM, sehingga rentan terjadi praktik monopoli.
“Harusnya dengan jumlah penduduk sekarang, wilayah ini sudah layak jadi kabupaten. Tapi karena masih kecamatan, distribusi jadi terbatas dan rawan permainan,” ujarnya.
Senada, Hamzah yang merupakan warga Wahau juga membenarkan bahwa terdapat kelangkaan dan kenaikan harga BBM. Jenis bahan bakar subsidi, Pertalite mecapai Rp17 ribu dan Pertamax Rp25 ribu.
“Sepertinya inj juga barangnya diambil dari luar Kutim, karena memang barangnya cukup langka,” tuturnya.
Hamzah juga mengatakan, dari informasi yang dirinya dapatkan pihak Pertamina kerap mengalami terlambat dalam distribusi. Sehingga, para pengecer kerap mengambil Pertalite dari daerah lain, diduga hal ini yang membuat harga Pertalite melonjak.
“Memang pengirimannya tidak ada, itu kalau dari informasi yang beredar,” tutupnya. (*)
Penulis: Nelly Agustina
Editor: Devi Nila Sari