Terlambat Selangkah: Dua Nyawa Kecil Pergi dalam Pelukan Api

Asap hitam sudah membumbung ketika mobil pemadam kebakaran datang dan mereka telah pergi dalam pelukan api.
Devi Nila Sari
2.2k Views

Kaltim.akurasi.id, Penajam – Asap hitam sudah membumbung ketika mobil pemadam kebakaran tiba di RT 06, Kelurahan Sungai Parit, Kecamatan Penajam, Kamis (9/7/2026). Dari kejauhan, api sudah melalap hampir seluruh bagian rumah panggung berbahan kayu itu.

Kobaran membesar begitu cepat hingga prioritas petugas bukan lagi menyelamatkan bangunan, melainkan mencegah api menjalar ke rumah-rumah di sekitarnya. Di balik kepulan asap itu, dua anak ternyata masih berada di dalam rumah. Namun, tidak seorang pun yang mengetahui keberadaan mereka saat petugas pertama kali tiba.

“Kami tidak tahu posisi anak-anak ada di mana. Kalau kami tahu mereka berada di kamar tertentu, mungkin masih bisa kami upayakan penyelamatannya. Tapi saat itu api sudah sangat besar,” kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Keselamatan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Fernando Simanjuntak, Jumat (10/07/2026).

Menurut Fernando, ketika tim damkar tiba, bangunan nyaris habis dilalap api. Material kayu yang mendominasi rumah membuat kobaran berlangsung sangat cepat. Ia mengatakan, seorang anggota damkar bahkan sempat naik ke lantai atas untuk mencari korban. Namun, upaya itu terhenti setelah terdengar ledakan dari dalam rumah.

“Anggota saya langsung melompat turun, karena situasinya sudah sangat berbahaya,” ujarnya.

Selain kobaran api, petugas juga menghadapi ancaman lain. Seorang personel damkar tersengat kabel listrik yang masih beraliran arus saat proses pemadaman. Beruntung, korban berhasil diselamatkan dan kini kondisinya telah membaik.

Fernando menegaskan, bahwa tugas damkar hanya sebatas penyelamatan dan pemadaman. Penentuan penyebab kebakaran sepenuhnya menjadi kewenangan kepolisian karena membutuhkan investigasi khusus.

Api Sulit Dikendalikan, Kabar Mengenai Anak-anak di dalam Rumah Baru Terdengar

Di tengah proses pemadaman, kabar mengenai masih adanya anak-anak di dalam rumah baru terdengar. Informasi itu pun muncul ketika api sudah sulit dikendalikan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila, mengatakan petugas di lapangan awalnya sama sekali tidak mengetahui ada anak-anak yang belum berhasil keluar.

“Baru ketika pemadaman berlangsun,  muncul informasi bahwa masih ada anak di dalam rumah. Sebelumnya tidak ada yang menyampaikan itu,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun BPBD, sang ibu sempat menyelamatkan diri ketika api membesar. Setelah berada di luar rumah, ia baru menyadari dua anak yang merupakan adik dan anaknya masih tertinggal di dalam. Salah seorang anak berusia tujuh tahun, lanjut Nurlaila, diduga memiliki kebutuhan khusus sehingga tidak merespons saat diajak keluar rumah.

“Ada yang bilang tangannya sempat ditarik, tetapi dia tidak merespons untuk keluar dari rumah,” ujarnya.

Dalam situasi darurat tersebut, informasi kejadian kebakaran justru datang dari salah satu nelayan yang sedang berlayar, bukan dari tetangga atau orang yang melihat peristiwa tersebut. Nurlaila pun menyoroti kepekaan setiap masyarakat terkait situasi kedaruratan.

Terlebih masyarakat lebih dahulu mengupload kejadian tersebut ke media sosial dibanding ke BPBD PPU. Menurutnya, ini sangat fatal dikarenakan semua lini kedaruratan memiki respon time 15 menit setelah laporan.

“Penting sekali masyarakat menyimpan nomor kedaruratan, baik Damkar atau BPBD PPU, sehingga tidak harus melalui teman ke teman. Ini kan kami tau dari orang yang punya teman di BPBD PPU, ini sangat tidak efektif,” tegasnya.

Penyebab Kebakaran Masih Misteri

Sementara itu, penyebab pasti kebakaran hingga kini masih menjadi misteri. Kasat Reskrim Polres PPU, Handry, mengatakan olah tempat kejadian perkara (TKP) belum dapat dilakukan secara maksimal karena kondisi lokasi masih panas dan berbahaya.

Polres PPU kini berkoordinasi dengan Tim Identifikasi Polda Kalimantan Timur serta Laboratorium Forensik (Labfor) Surabaya untuk memastikan penyebab kebakaran.

“Kami masih mendalami apakah penyebabnya karena faktor human error atau ada faktor lain. Semua masih menunggu hasil olah TKP lanjutan dan pemeriksaan Laboratorium Forensik,” kata Handry.

Polisi juga masih memeriksa sejumlah saksi, termasuk warga sekitar dan keluarga korban. Namun, pemeriksaan dilakukan secara bertahap, mengingat kondisi psikologis keluarga masih mengalami trauma.

Di lokasi kejadian, polisi menemukan adanya bahan yang mudah terbakar seperti tabung LPG dan diduga bahan bakar minyak (BBM). Namun, aparat belum dapat menyimpulkan apakah keberadaan BBM tersebut berkaitan langsung dengan penyebab kebakaran, maupun apakah disimpan untuk dijual atau digunakan sendiri.

“Kalau nanti terbukti ada pelanggaran terkait penyimpanan atau penjualan BBM tanpa izin tentu ada ketentuan hukumnya. Tetapi saat ini fokus kami adalah memastikan penyebab kebakaran terlebih dahulu,” ujar Handry.

Usai menyerahkan bantuan paska bencana Bupati PPU, Mudyat Noor, mengatakan pemerintah daerah bersama rumah sakit bergerak cepat sejak hari pertama kejadian. Bantuan kebutuhan dasar telah disalurkan melalui baznas, sementara penggalangan bantuan juga dilakukan di tingkat kecamatan untuk membantu keluarga korban membangun kembali tempat tinggal mereka.

Masyarakat Diimbau Waspada Penyimpanan Bahan Mudah Terbakar 

Selain bantuan materiil, pemerintah juga menaruh perhatian pada pemulihan psikologis keluarga yang kehilangan dua anak dalam tragedi tersebut.

“Kami berharap pendampingan psikologis dari rumah sakit terus dilakukan sampai kondisi keluarga benar-benar stabil,” kata Mudyat.

Peristiwa memilukan ini juga menjadi pengingat akan meningkatnya risiko kebakaran di tengah musim kemarau dan cuaca panas yang disertai angin kencang. Mudyat mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap penyimpanan bahan-bahan yang mudah terbakar di lingkungan rumah, sembari menunggu hasil penyelidikan kepolisian yang akan mengungkap penyebab pasti kebakaran yang merenggut nyawa dua bocah tersebut.

“Kami akan serahkan ke APH untuk penegakannya (Pengetap dan penyimpanan bahan bakar), kami juga sudah rapatkan sejak kemarin. Kami juga dilema dengan kondisi ini, apalagi ini juga termasuk salah satu pemasukkan masyarakat,” pungkasnya. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana