Kaltim.akurasi.id, Tenggarong – Dinas Perkebunan (Disbun) Kukar memastikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak mempengaruhi harga tandan buah segar (TBS) sawit. Harga TBS justru kembali menguat setelah sempat anjlok pada April lalu.
Kepala Disbun Kukar Muhammad Taufik mengatakan, perkembangan harga sawit sejauh ini tidak menunjukkan adanya pengaruh langsung dari kejadian karhutla.
Menurutnya, pergerakan harga lebih berkaitan dengan dinamika pasar dan kebijakan yang memengaruhi perdagangan komoditas sawit.
“Sejauh ini harga TBS tidak terpengaruh dengan adanya karhutla. Harga sempat agak anjlok pada April kemarin, tetapi sekarang sudah naik lagi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, harga TBS sebelumnya sempat berada pada kisaran Rp2.600 hingga Rp2.700 per kilogram, terutama untuk hasil panen petani swadaya. Namun, dalam perkembangan terakhir, harga kembali mengalami peningkatan.
“Harga TBS sekarang sudah naik lagi. Sebelumnya sempat berada di kisaran Rp2.600 sampai Rp2.700, terutama untuk petani swadaya,” katanya.
Harga TBS Petani Kemitraan Cenderung Lebih Stabil Karena Ikut Ketetapan Pemerintah
Taufik menuturkan, penurunan harga pada periode sebelumnya tidak terlepas dari reaksi pasar terhadap perkembangan kebijakan ekspor.
Menurutnya, pasar sempat memberikan respons yang cukup besar terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait ekspor, sebelum harga kembali bergerak naik.
“Waktu itu pasar bereaksi terlalu berlebihan terhadap pernyataan Pak Prabowo mengenai ekspor. Namun, penurunannya tidak berlangsung lama dan harga TBS kembali naik,” jelasnya.
Ia juga membedakan perkembangan harga yang diterima petani swadaya, dengan petani yang tergabung dalam pola kemitraan perusahaan perkebunan.
Menurut Taufik, harga TBS petani kemitraan cenderung lebih stabil, karena mengacu pada penetapan harga pemerintah provinsi.
“Kalau yang kemitraan, harganya hampir stabil dan mengikuti penetapan. Sebagian besar perusahaan perkebunan yang sudah bermitra dengan petani plasma mengikuti harga yang ditetapkan pemerintah provinsi,” ungkapnya.
Sementara itu, petani swadaya dinilai lebih merasakan gejolak harga pasar dibandingkan petani yang terikat dalam kemitraan perusahaan. Perbedaan tersebut terlihat ketika harga TBS mengalami penurunan pada periode sebelumnya.
“Pantauan kami, harga kemitraan tidak anjlok seperti harga yang di luar kemitraan kemarin,” tuturnya.
Terkait dampak karhutla terhadap aktivitas perkebunan, Taufik menegaskan, bahwa hingga saat ini pihaknya belum melihat penurunan produksi maupun perubahan harga yang disebabkan langsung oleh kebakaran.
“Karhutla maupun kebakaran ini tidak berpengaruh terhadap harga TBS maupun produksi. Tidak ada penurunan produksi yang kami lihat sejauh ini,” tegasnya. (Adv/diskominfokukar/dn)
Penulis: Devi Nila Sari
Editor: Dirhanuddin