Kaltim.akurasi.id, Bontang – Persoalan pendidikan, terapi, hingga kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas menjadi sorotan di Kota Bontang.
Salah satu orangtua anak penyandang disabilitas, Masita, menyampaikan harapannya agar pemerintah memberikan perhatian terhadap akses pendidikan anak disabilitas hingga perguruan tinggi.
Menurutnya, di Bontang masih terbatas kampus yang ramah disabilitas, sehingga banyak orang tua merasa berat jika harus mengirim anak kuliah ke luar daerah.
“Kami berharap ada beasiswa khusus dan kampus yang bisa menerima anak-anak kami untuk melanjutkan pendidikan,” ujarnya dalam agenda Reses Wakil Ketua DPRD Bontang, Sitti Yara.
Selain pendidikan, para orang tua juga menyoroti minimnya fasilitas olahraga bagi anak-anak disabilitas Bontang yang memiliki bakat dan prestasi. Disebutkan, sejumlah anak disabilitas di Kota Taman -sebutan Bontang- telah berprestasi di bidang renang, atletik, dan tenis meja, bahkan pernah mewakili Kalimantan Timur. Namun hingga kini, sarana latihan dan pendamping profesional masih terbatas.
Keluhan lain yang banyak disampaikan adalah soal layanan terapi. Beberapa orang tua anak autisme dan down syndrome mengaku kesulitan setelah terapi yang dibiayai BPJS berhenti saat anak berusia tujuh tahun. Kondisi itu membuat orang tua harus mencari biaya sendiri agar terapi anak tetap berlanjut.
Mereka berharap pemerintah dapat menyediakan pusat layanan terapi yang memadai serta mudah diakses masyarakat. Keberadaan fasilitas seperti autism center juga dinilai perlu dimaksimalkan agar benar-benar memberi manfaat nyata.
“Kami para orang tua berharap fasilitas di autis center bisa segera dibenahi,” tambahnya.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Sitti Yara menyatakan komitmennya untuk memperjuangkan kebutuhan penyandang disabilitas di Bontang. Ia menegaskan akan berkoordinasi dengan dinas terkait, seperti Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial, guna mencari solusi terhadap persoalan yang disampaikan masyarakat.
“Masukan dari para orang tua ini sangat penting karena mereka yang merasakan langsung kebutuhan anak-anaknya,” kata Sitti Yara.
Melalui reses ini, diharapkan lahir langkah konkret untuk meningkatkan layanan pendidikan inklusif, terapi berkelanjutan, fasilitas olahraga, serta peluang kerja yang setara bagi penyandang disabilitas di Kota Bontang. Pemerintah dan DPRD diminta hadir memberi solusi agar hak-hak mereka benar-benar terpenuhi.
“Akan segera kami agendakan untuk duduk bincang bersama dinas terkait dan orang tua untuk menemukan solusi terbaik,” pungkasnya.
Diketahui, kegiatan Reses Masa Sidang II Tahun 2026 itu menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan langsung berbagai persoalan yang selama ini dihadapi keluarga penyandang disabilitas di Kota Bontang. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan organisasi disabilitas, komunitas orang tua, serta masyarakat umum. Kegiatan berlangsung di Hotel Akbar, Rabu (29/4/2026). (adv/dprdbontang/cha/uci)
Penulis: Siti Rosidah More
Editor: Suci Surya Dewi