Lampu minyak di sudut ruangan berkedip sekali, lalu kembali diam. Kikan menekan ujung pensilnya ke kertas, tapi tidak menulis apa-apa.
Tugas Bu Lastri jelas: ceritakan liburanmu dalam satu halaman. Satu halaman penuh. Kikan sudah menghitung kotaknya. Ada delapan puluh kotak, dua belas baris. Sekarang baru terisi empat baris, dan itu pun sudah ia hapus dua kali.
Di sebelahnya, Nenek Rosna duduk di bangku pendek, menganyam tikar pandan yang setengah jadi. Jari-jarinya bergerak sendiri, seperti tidak perlu diperintah. Sesekali bibirnya bergerak pelan, tapi tidak mengeluarkan suara, hanya doa kecil yang sudah hafal di luar kepala.
“Nini,” panggil Kikan.
“Hm.”
“Liburan kemarin kita ngapain aja?”
Nenek Rosna tidak berhenti menganyam. “Kamu main air.”
“Itu bukan main.”
“Lalu apa?”
Kikan tidak menjawab. Ia menatap kertasnya lagi. Di luar, suara air bergerak pelan, seperti orang yang berjalan mengendap-endap. Rumah mereka berdiri di atas tiang-tiang kayu ulin yang sudah tua, dan malam ini air sudah naik sampai ke papan lantai paling bawah. Kikan tahu itu karena sore tadi ia melihatnya sendiri sebelum matahari turun.
Ia menulis pelan-pelan.
Liburanku di rumah. Aku tinggal sama Nini Rosna.
Berhenti. Menghapus Nini Rosna, menggantinya dengan nenek.
Liburanku di rumah. Aku tinggal sama nenek.
Masih dua baris. Delapan puluh kotak masih menganga.
Siang tadi, sebelum hujan ringan turun, ada seorang perempuan muda datang dengan perahu kecil. Rambutnya dikuncir rapi dan ia membawa tas ransel oranye yang terlihat baru. Ia bilang dari universitas, datang untuk “mendokumentasikan kondisi pesisir.” Kikan tidak tahu arti mendokumentasikan, tapi perempuan itu banyak memotret, memotret rumah, memotret air, memotret tiang-tiang kayu yang separuhnya sudah coklat kehitaman.
Lalu perempuan itu menoleh ke Kikan. “Dek, boleh tanya, itu dulu pohon apa?”
Kikan mengikuti arah telunjuknya.
Di tengah hamparan air coklat keruh, ada sesuatu yang mencuat ke permukaan. Seperti jari-jari tangan yang kurus, mengarah ke langit. Batang dan beberapa cabang tua dari pohon yang sudah lama tidak berdaun.
“Nini bilang itu pohon sukun,” jawab Kikan.
“Dulu besar?”
“Kata Nini, dulu aku bisa duduk di bawahnya. Tapi aku nggak ingat.”
Perempuan itu mengangguk, memotret lagi. Kikan memperhatikan bagaimana kamera diarahkan ke pohon itu lama sekali, lebih lama dari ketika memotret rumah.
Sebelum pergi, perempuan itu bertanya nama Nenek Rosna. Mencatatnya di buku kecil dengan pena merah. Kikan melihat ada banyak nama lain di sana sebelum bukunya ditutup.
“Nini,” panggil Kikan lagi.
“Hm.”
“Itu pohon sukun dulu tingginya sampai mana?”
Nenek Rosna berhenti sebentar. Tangannya masih memegang pandan, tapi tidak bergerak. Matanya menuju ke arah jendela yang kecil, ke arah gelap di luar.
“Lebih tinggi dari atap rumah.”
“Lebih tinggi dari rumah?”
“Daunnya sampai menutup sebagian atap kita. Kalau musim buah, buahnya jatuh ke atap. Bunyi gedebuk tengah malam.” Nenek Rosna menyambung anyamannya lagi. “Kamu nangis waktu itu. Kamu kira ada yang ketuk atap.”
Kikan mencoba membayangkan itu. Pohon yang lebih tinggi dari rumah. Daun yang menutup atap. Dirinya yang menangis karena buah sukun jatuh.
Ia tidak ingat.
Yang ia ingat hanya ujung-ujung cabang yang kering mencuat dari air, seperti sesuatu yang tidak mau menyerah tenggelam.
Ia kembali ke bukunya. Menulis lagi.
Waktu liburan aku lihat pohon sukun di depan rumah. Kata nenek dulu pohonnya tinggi. Sekarang sudah di dalam air.
Tiga baris. Tapi rasanya sudah cukup mewakili sesuatu yang ia sendiri belum bisa namakan.
Malam semakin dalam. Di dinding kayu sebelah pintu, ada garis-garis coklat yang memanjang vertikal, masing-masing dengan tulisan kecil di sampingnya, tanggal, ditulis dengan pensil, kadang spidol hitam ketika pensilnya habis. Itu pekerjaan Kikan sendiri. Dimulai setahun lalu, waktu Nenek Rosna bilang air ini naik terus, Kan, biar kita catat. Maka Kikan yang mencatat. Setiap kali air mencapai titik tertinggi malam itu, ia berdiri di atas kursi dan membuat garis.
Garis paling bawah sudah hampir tidak kelihatan karena warna dindingnya ikut mencoklat.
Kikan turun dari kursi belajarnya, berjalan ke pintu, dan melihat garis terakhir yang ia buat tiga hari lalu. Lalu ia melihat ke lantai. Air sudah ada di dalam rumah, setipis lapisan kaca, memantulkan cahaya lampu minyak jadi berpencar-pencar kecil.
Ia naik ke kursi. Mengambil pensil. Membuat garis baru, sedikit lebih tinggi.
Di sampingnya ia tulis tanggal dengan tulisan miring, karena kurang cahaya.
“Nini, airnya naik,” katanya.
“Berapa tinggi?”
“Lebih dari kemarin.”
Nenek Rosna menghela napas perlahan. Tidak panik. Hanya napas yang dikeluarkan pelan-pelan seperti orang membuang sesuatu yang terlalu lama disimpan di dada. “Angkat tasmu. Taruh di atas lemari.”
Kikan sudah hafal urutannya. Tas sekolah naik ke lemari. Buku-buku dibungkus plastik dulu, baru naik. Sepatu disimpan di kantong kresek dan digantung di paku tertinggi yang bisa dijangkau. Semua bergerak cepat tapi tidak terburu-buru, seperti tari yang sudah lama dilatih.
Setelah selesai, Kikan duduk di atas lemari, menyender ke dinding, membawa buku tugasnya.
Dari atas sini ia bisa melihat garis-garis di dinding lebih jelas. Banyak sekali. Rapat di bagian bawah, lalu semakin ke atas semakin jarang, karena belum pernah setinggi itu — belum.
Ia membuka buku tugasnya lagi. Satu halaman hampir penuh sekarang, tulisannya semakin miring ke kiri karena menulis di atas lemari tidak mudah.
Yang paling aku ingat waktu liburan adalah pohon sukun. Aku dan Nini kadang lihat ke sana kalau sore. Nini pernah bilang dulu bisa petik buahnya langsung dari halaman. Sekarang halamanya sudah jadi laut.
Kikan membaca ulang kalimat terakhirnya.
Sekarang halamannya sudah jadi laut.
Ia tidak menghapusnya.
“Nini.”
Nenek Rosna sudah duduk di dipan yang lebih tinggi, anyamannya terlipat rapi di pangkuannya. Matanya setengah terpejam.
“Nini pernah mau pindah?”
Lama sekali tidak ada jawaban. Kikan mengira neneknya sudah tidur.
“Pernah,” akhirnya Nenek Rosna berkata. “Waktu namaku belum masuk surat itu, aku pikir kita tetap di sini saja.”
“Sekarang sudah masuk?”
“Belum tahu.”
Kikan mengangguk pelan, seolah mengerti, padahal tidak sepenuhnya. Yang ia tangkap hanya: ada surat, ada nama, dan nama Nenek Rosna belum tentu ada di sana.
Ia melihat ke arah luar jendela. Gelap. Tapi di antara gelap itu, di bawah cahaya bulan yang tipis, ia bisa melihat ujung-ujung cabang pohon sukun mencuat dari permukaan air. Tidak bergerak. Hanya diam, seperti sedang menunggu sesuatu.
Kikan menutup buku tugasnya.
Satu halaman sudah penuh. Bu Lastri tidak akan kecewa.
Tapi ada satu hal yang tidak ia tulis, sesuatu yang tadi sore tiba-tiba muncul di kepalanya ketika perempuan dengan kamera itu sudah pergi dan ia berdiri sendiri memandangi pohon sukun dari tepi rumah.
Ia ingin tahu bagian mana dari pohon itu yang masih ada di bawah air. Akar-akarnya. Batang bawahnya. Bagian yang tidak bisa dilihat dari mana pun.
Apakah di sana masih seperti dulu, waktu tanah belum jadi air dan ia pernah duduk di bawahnya meski tidak ingat.
Air di lantai beriak kecil, diusik angin malam yang masuk dari celah dinding.
Kikan menyender ke dinding lemari, matanya pelan-pelan terpejam.
Di luar, pohon sukun masih berdiri seperti biasa, setengah tenggelam, setengah tidak. (*)
Fajri Sunaryo, Jurnalis Akurasi.id