DPRD Samarinda Dorong Penguatan Identitas Kampung Tenun dan Kampung Ketupat

DPRD Samarinda dorong penguatan identitas Kampung Tenun dan Kampung Ketupat. Sehingga punya modal lebih kuat untuk pengembangan tujuan wisata budaya dan edukasi.
Devi Nila Sari
1.6K Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Pengembangan destinasi wisata budaya di Samarinda Seberang, dinilai belum cukup hanya mengandalkan aktivitas ekonomi dan tradisi yang berlangsung di dalamnya. Identitas kawasan juga perlu diperkuat agar karakter destinasi lebih mudah dikenali wisatawan.

Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Viktor Yuan, menilai Kampung Tenun di Jalan Pangeran Bendahara dan Kampung Ketupat di Jalan Mangkupalas memiliki modal kuat, untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata budaya dan edukasi.

“Kampung Tenun, misalnya, menawarkan pengalaman bagi pengunjung untuk melihat langsung proses pembuatan sarung Samarinda. Sementara Kampung Ketupat memiliki daya tarik kuliner lokal yang berkembang di kawasan tepian Sungai Mahakam,” kata dia.

Namun, potensi tersebut menurut Viktor perlu diperkuat melalui penataan lingkungan yang mencerminkan identitas masing-masing kawasan.

Ia menilai, wisatawan seharusnya dapat langsung mengetahui karakter sebuah destinasi hanya dari tampilan kawasan ketika pertama kali datang. Karena itu, ornamen khas maupun elemen visual lokal dinilai penting untuk ditampilkan secara konsisten.

“Mestinya di sana ada gambaran, bahwa ini benar-benar Kampung Tenun. Mau rumah itu tempat produksi atau tidak, setidaknya ada ornamen sarung Samarinda sebagai ikon kawasan,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan serupa dapat diterapkan di Kampung Ketupat. Penataan tidak harus selalu berupa pembangunan fisik berskala besar, tetapi dapat dimulai dari elemen visual yang memperkuat ciri khas kawasan.

“Sama dengan Kampung Ketupat, ayo kita buat penataannya. Begitu orang melihat, harus langsung terasa ‘Oh ini Kampung Ketupat’. Kesan visual itu yang harus kita kejar ke depan,” tuturnya.

Viktor menilai, penguatan identitas visual juga dapat menjadi bagian dari strategi promosi wisata. Ketika kawasan memiliki karakter yang kuat, pengalaman pengunjung berpotensi lebih mudah diingat sekaligus memperkuat citra destinasi.

Meski demikian, ia mengingatkan, pengembangan wisata budaya tidak boleh berhenti pada pembangunan dan penataan kawasan. Masyarakat yang menjadi pelaku utama juga perlu mendapat pembinaan, agar mampu mengambil manfaat ekonomi dari meningkatnya kunjungan wisatawan.

“Kalau benar-benar kita mau meningkatkan dan mengembangkan daerah pariwisata budaya di Samarinda, ayo kita aplikasikan bentuk visualnya dan sekaligus kita bina sumber daya manusianya,” pungkasnya. (Adv/dprdsamarinda/zul)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana