Kolam Retensi Sempaja 2,6 Hektare Hampir Rampung, DPRD Minta Drainase Segera Disambung

DPRD Samarinda minta drainase di kawasan Sempaja segera terkoneksi ke kolam retensi. Sebagai upaya penanggulangan banjir di kawasan tersebut.
Devi Nila Sari
1.1k Views

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, menyoroti pentingnya konektivitas sistem drainase pada pembangunan kolam retensi di kawasan Sempaja, sebagai kawasan yang digadang menjawab keresahan warga soal banjir.

Kolam retensi tersebut memiliki luas sekitar 2,6 hektare dan menjadi salah satu infrastruktur penting untuk mengurangi potensi banjir di kawasan utara Kota Samarinda.

Deni menjelaskan, secara fisik pembangunan kolam retensi beserta pintu airnya sebenarnya sudah selesai. Namun, masih ada pekerjaan yang perlu diselesaikan, yakni penyambungan saluran drainase dari pintu air kolam menuju sistem drainase di Gang Ahim.

Menurutnya, konektivitas ini menjadi sangat penting karena selama ini Gang Ahim menjadi salah satu titik krusial yang menyebabkan aliran air tidak berjalan optimal.

- Advertisement -
Ad image

“Kolam retensi di Sempaja ini luasnya sekitar 2,6 hektare. Pembangunan kolam dan pintu airnya sudah selesai. Yang tersisa adalah penyambungan drainase dari pintu air menuju drainase di Gang Ahim,” kata Deni.

Deni Paparkan Kondisi Saluran Air di Sempaja

Ia menjelaskan, di kawasan tersebut terdapat penyempitan saluran air saat mendekati simpang empat Sempaja. Penyempitan ini menimbulkan fenomena bottleneck atau hambatan aliran air, yang menjadi salah satu penyebab genangan ketika curah hujan tinggi.

Deni menyebut, titik pertemuan aliran air dari beberapa kawasan besar menjadi faktor utama terjadinya penumpukan air di lokasi tersebut.

“Selama ini di Gang Ahim terjadi penyempitan saluran saat menuju simpang empat Sempaja. Di titik itu terjadi bottleneck karena pertemuan aliran dari PM Noor, AWS, dan Wahid Hasyim,” jelasnya.

Jika kapasitas saluran tidak mampu menampung debit air dari berbagai kawasan tersebut, maka air akan kembali meluap dan menyebabkan genangan di permukiman warga.

Oleh karena itu, ia menegaskan keberadaan kolam retensi tidak hanya berfungsi sebagai tempat penampungan air sementara, tetapi juga sebagai sistem pengatur aliran air agar dapat mengalir secara terkontrol menuju saluran utama.

“Kolam retensi ini tidak hanya untuk menampung air, tetapi juga untuk mengatur aliran agar berjalan dengan semestinya,” katanya.

DPRD Minta Pemkot Samarinda Buat Blueprint Lengkap Sistem Drainase

DPRD Samarinda juga meminta agar pemerintah kota melalui dinas terkait segera mengidentifikasi titik-titik hambatan yang ada dalam jaringan drainase di kawasan tersebut. Hal ini dinilai penting agar keberadaan kolam retensi benar-benar memberikan dampak nyata dalam mengurangi banjir.

Deni menegaskan, pembangunan kolam retensi tidak akan efektif apabila tidak terhubung dengan jaringan drainase yang sudah ada.

“Kami meminta agar titik-titik hambatan segera diidentifikasi dan diselesaikan. Jangan sampai kolam retensi sudah dibangun tetapi tidak terkoneksi dengan sistem drainase yang ada,” tegasnya.

“Memang sebelumnya ada sedikit persoalan sosial terkait pembebasan lahan, tetapi sekarang sudah dipastikan kepemilikan dan peruntukannya jelas,” ujarnya.

Saat ini, pemerintah kota juga merencanakan tambahan kegiatan pembangunan untuk menghubungkan kolam retensi dengan sistem drainase yang ada. Estimasi anggaran yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp6 miliar.

Deni mengatakan, pihaknya telah meminta data lengkap dan dokumen perencanaan dari bidang sumber daya air (SDA), guna memastikan seluruh sistem drainase di kawasan tersebut dapat terhubung secara menyeluruh.

“Kami sudah meminta data lengkap dan blueprint dari bidang SDA agar seluruh sistem drainase benar-benar terkoneksi,” jelasnya.

Ia menekankan, tanpa konektivitas sistem yang baik, pembangunan kolam retensi tidak akan memberikan dampak maksimal dalam upaya pengendalian banjir di Kota Samarinda.

“Tanpa konektivitas, pembangunan kolam retensi tidak akan efektif dalam menanggulangi banjir,” tegasnya. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari

 

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana