Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan memasuki fase yang perlu diwaspadai. Sebanyak 750 titik panas atau hotspot berkepercayaan tinggi terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan sepanjang 17–19 Agustus 2026.
Data Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan menunjukkan lonjakan paling tajam terjadi pada 19 Agustus. Dalam sehari, terdeteksi 518 hotspot berkepercayaan tinggi, terdiri atas 259 titik di Kalimantan Barat, 242 titik di Kalimantan Tengah, dan 17 titik di Kalimantan Selatan.
Lonjakan tersebut terjadi di tengah periode puncak musim kemarau yang sebelumnya telah diperingatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pemerintah pun memperkuat operasi terpadu pengendalian karhutla di tiga provinsi tersebut menyusul peningkatan hotspot serta laporan munculnya kabut asap dan penurunan jarak pandang di sejumlah wilayah.
Kabut Asap Mulai Berdampak
Peningkatan aktivitas karhutla mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan. Kabut asap dilaporkan muncul di beberapa kawasan, termasuk Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena asap karhutla tidak hanya berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas transportasi apabila jarak pandang menurun.
Di Kalimantan Selatan, pemerintah daerah bahkan memperkuat penanganan karhutla untuk mengantisipasi dampak sosial bagi masyarakat. Penanganan difokuskan di wilayah utara ring satu Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru.
Sementara itu, Kementerian Kehutanan menyebut laporan kabut asap dan keterbatasan jarak pandang menjadi salah satu alasan pemerintah memperkuat operasi terpadu di Kalimantan.
Pengendalian dilakukan melalui kombinasi pemadaman darat, dukungan udara, serta peningkatan pemantauan titik panas di wilayah rawan.
Meski jumlah hotspot melonjak, angka tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai jumlah kejadian kebakaran.
Hotspot merupakan indikasi anomali panas yang terdeteksi melalui pemantauan satelit. Karena itu, setiap titik panas tetap membutuhkan verifikasi di lapangan untuk memastikan apakah benar merupakan kebakaran dan mengetahui kondisi sebenarnya di lokasi.
Kementerian Kehutanan menekankan pentingnya verifikasi cepat terhadap setiap hotspot, khususnya pada wilayah yang memiliki risiko tinggi karhutla.
Prinsip penanganannya adalah melakukan pengecekan sedini mungkin sebelum indikasi panas berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
Dengan demikian, angka 750 hotspot menjadi indikator meningkatnya potensi karhutla, bukan berarti terdapat 750 lokasi kebakaran yang telah terkonfirmasi.
BMKG Sudah Peringatkan Puncak Risiko
Ancaman karhutla saat ini tidak terlepas dari kondisi iklim. BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus, yang mencakup sebagian besar wilayah Kalimantan.
BMKG juga memprediksi musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Kondisi tersebut diperburuk oleh fenomena El Niño yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan lembaganya memperkuat mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengantisipasi kekeringan dan karhutla.
“BMKG mengambil langkah proaktif dengan memperkuat dan memperluas OMC sebagai bentuk komitmen mitigasi bencana hidrometeorologi secara terpadu di Indonesia,” kata Faisal dalam Siaran Pers HKLN.
Sementara Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan dampak El Niño terhadap Indonesia menjadi lebih signifikan ketika fenomena tersebut bertepatan dengan musim kemarau.
“Dampaknya ke Indonesia terjadi ketika El Niño bertemu langsung dengan musim kemarau,” ujarnya.
Bahkan, hasil pemantauan BMKG pada dasarian pertama Agustus menunjukkan indeks ENSO wilayah Nino 3.4 mencapai +2,77, yang dikategorikan sebagai El Niño dengan intensitas sangat kuat. Pada periode yang sama, beberapa wilayah di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur masuk dalam wilayah yang mendapat peringatan dini kekeringan meteorologis.
Kaltim Tak Boleh Lengah
Kondisi tersebut menjadi peringatan bagi Kalimantan Timur. Meskipun lonjakan 750 hotspot yang menjadi sorotan saat ini berasal dari tiga provinsi—Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan—Kaltim juga berada dalam periode rawan kekeringan dan karhutla.
Dalam analisis BMKG pada awal Agustus, sejumlah wilayah Kaltim masuk dalam kategori waspada kekeringan meteorologis.
Data BPBD Kaltim yang sebelumnya dihimpun hingga Agustus 2026 juga menunjukkan terdapat 242 lokasi kejadian kebakaran di berbagai wilayah Kaltim. Dari jumlah tersebut, 118 kejadian terjadi hanya sepanjang Agustus.
Kondisi ini menunjukkan ancaman karhutla di Kaltim tidak berdiri sendiri. Ketika musim kemarau semakin kering, lahan menjadi lebih mudah terbakar dan asap berpotensi menyebar mengikuti kondisi angin.
Karena itu, peningkatan hotspot di provinsi lain di Kalimantan perlu menjadi alarm bagi daerah lain, termasuk Kaltim, untuk memperkuat deteksi dini dan kesiapsiagaan.
Pemerintah Perkuat Pengendalian
Untuk menghadapi peningkatan risiko tersebut, pemerintah memperkuat operasi pengendalian karhutla di Kalimantan. Langkah tersebut mencakup pemadaman di darat, dukungan udara, pemantauan hotspot, serta koordinasi lintas instansi.
BMKG juga telah melakukan operasi modifikasi cuaca sebagai salah satu upaya mitigasi. Hingga akhir Juli 2026, BMKG mencatat ribuan hotspot telah terdeteksi secara nasional dan konsentrasinya antara lain berada di Kalimantan Barat. Partikulat asap karhutla juga telah terdeteksi di wilayah tersebut.
Namun, kondisi cuaca tetap menjadi tantangan. Jika kemarau kering terus berlangsung, potensi munculnya titik panas dan kebakaran baru masih terbuka.
Dengan 750 hotspot berkepercayaan tinggi hanya dalam tiga hari dan kabut asap mulai muncul di sejumlah wilayah, Kalimantan kini menghadapi fase kritis karhutla. Pemerintah daerah dituntut tidak hanya bergerak ketika api sudah membesar, tetapi memperkuat pencegahan sejak titik panas pertama terdeteksi.
Sebab, ketika titik panas berubah menjadi api dan api berubah menjadi asap, dampaknya tidak lagi berhenti di lokasi kebakaran. (*)
Penulis: Redaksi Akurasi.id