Kaltim.akurasi.id, Samarinda — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur menyiapkan rumah oksigen di 10 kabupaten/kota sebagai langkah antisipasi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari kesiapsiagaan sektor kesehatan menghadapi musim kemarau dan potensi meningkatnya paparan asap karhutla.
Berdasarkan Situation Report Penanganan Karhutla Dinkes Kaltim per 24 Agustus 2026, terdapat rencana penyediaan 20 titik rumah oksigen atau puskesmas yang tersebar di berbagai wilayah Kaltim.
Fasilitas tersebut akan didukung 128 tabung oksigen portabel berkapasitas 1 meter kubik, 64 tabung oksigen besar berkapasitas 6 meter kubik, serta 197 set regulator dan nasal cannula sebagai buffer stock.
“Rumah oksigen ini disiapkan untuk memperkuat kapasitas layanan kesehatan, terutama di wilayah yang memiliki potensi paparan asap dan kelompok masyarakat rentan,” ujar Jaya Mualimin.
Sepuluh wilayah yang menjadi sasaran kesiapsiagaan tersebut meliputi Berau, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Paser, Kutai Barat, Penajam Paser Utara (PPU), Samarinda, Bontang, Balikpapan, dan Mahakam Ulu.
Berau menjadi salah satu wilayah prioritas. Rencananya, rumah oksigen ditempatkan di Sambaliung dan Pulau Derawan. Berdasarkan pantauan BPBD Kaltim pada 21 Agustus 2026, wilayah Berau tercatat memiliki 419 titik panas.
Kesiapsiagaan juga diarahkan ke Kutai Timur, Kutai Kartanegara, dan Paser. Pada periode pemantauan yang sama, ketiga daerah tersebut masing-masing tercatat memiliki 165, 142, dan 105 titik panas.
Secara keseluruhan, Dinkes Kaltim mencatat 911 titik panas terdeteksi di wilayah Kaltim. Dari jumlah tersebut, sebanyak 845 titik berada dalam kategori kerawanan sedang, 56 titik kategori tinggi, dan 10 titik kategori rendah.
Jaya mengatakan kesiapsiagaan tidak hanya dilakukan melalui penyediaan oksigen. Dinkes juga mempercepat pemenuhan stok masker, obat-obatan, bahan medis habis pakai (BMHP), serta memperkuat koordinasi lintas sektor.
“Pemantauan kualitas udara dan tren penyakit terdampak asap juga perlu diperkuat, termasuk melalui Sanitarian Kit dan sistem surveilans kesehatan,” katanya.
Dinkes Kaltim juga mengarahkan penguatan Klaster Kesehatan dalam koordinasi Satgas Karhutla di daerah. Tim Gerak Cepat (TGC) puskesmas serta jejaring kader dan relawan disiapkan untuk mendukung penjangkauan masyarakat, khususnya ketika kondisi udara memburuk.
Perlindungan kelompok rentan turut menjadi perhatian, terutama anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan. Pembatasan aktivitas di luar ruangan menjadi salah satu langkah yang direkomendasikan ketika kualitas udara berada pada kondisi yang tidak sehat.
Di sisi lain, Dinkes Kaltim tetap mengantisipasi kemungkinan peningkatan kasus penyakit yang berkaitan dengan paparan asap, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, dan asma.
“Yang utama adalah memastikan layanan kesehatan tetap berjalan dan masyarakat mendapatkan perlindungan dari risiko paparan asap,” jelasnya. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id