Kabut Asap Selimuti Samarinda, Kualitas Udara Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat

Kualitas udara di Samarinda masuk kategori sangat tidak sehat. BMKG imbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Devi Nila Sari
2K Views

Kaltim.akurasi.id, Samarindahttps://akurasi.id/Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah Samarinda dan sekitarnya pada Rabu (16/9/2026). Kondisi tersebut membuat jarak pandang menurun dan kualitas udara memburuk.

Berdasarkan data pemantauan kualitas udara di Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda, konsentrasi partikulat udara halus atau PM2.5 mencapai 161,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 15.00 WITA.

Angka tersebut masuk dalam kategori sangat tidak sehat. Dalam panduan klasifikasi yang ditampilkan pada sistem pemantauan, kategori sangat tidak sehat berada pada rentang 150,5 hingga 250,4 µg/m³.

Data pemantauan 24 jam terakhir juga menunjukkan konsentrasi PM2.5 mengalami fluktuasi. Pada sejumlah waktu, konsentrasi berada pada kategori sedang hingga tidak sehat sebelum kembali meningkat tajam pada pukul 15.00 WITA.

Kepala Stasiun Meteorologi APT Pranoto BMKG Samarinda, Riza Arian Noor, menjelaskan kondisi kabut asap tersebut dipengaruhi sejumlah faktor meteorologis. Salah satunya perubahan arah angin dan kondisi atmosfer yang berawan.

Riza menyebut, beberapa hari sebelumnya BMKG telah memprediksi adanya potensi perawanan cukup tinggi pada 16-17 September 2026. Kondisi tersebut kemudian terlihat di Samarinda sejak pagi.

“Beberapa hari kemarin sesuai prediksi kita, tanggal 16-17 memang ada potensi perawanan yang lumayan. Artinya ada potensi-potensi hujan,” kata Riza.

Penjelasan BMKG Soal Kabut Asap

Kualitas udara di Samarinda. (Istimewa)

Ia menuturkan, kondisi berawan membuat radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi menjadi lebih rendah. Akibatnya, asap hasil pembakaran di sejumlah wilayah tidak dapat naik ke atmosfer secara optimal dan cenderung tertahan di lapisan udara tertentu.

“Karena berawan, radiasi matahari tidak bisa masuk ke permukaan secara maksimal. Dengan adanya pembakaran di beberapa tempat, asap-asap itu akhirnya tertahan. Biasanya dengan adanya radiasi matahari, asap bisa naik ke atmosfer,” tuturnya.

Selain kondisi atmosfer, perubahan arah angin turut memengaruhi penyebaran asap. Riza mengungkapkan, arah angin yang biasanya berasal dari selatan hingga tenggara kini mengalami perubahan menjadi dari arah barat laut.

Perubahan tersebut membuat asap yang sebelumnya cenderung bergerak menjauhi sejumlah wilayah berpotensi terbawa menuju Samarinda dan kawasan sekitarnya.

“Biasanya angin dari Selatan-Tenggara, sekarang dari Barat Laut. Ada perubahan angin,” ujarnya.

Ia menegaskan, kualitas udara dapat berubah setiap waktu karena alat pemantauan bekerja secara real time. Kondisi pada satu jam tertentu belum tentu sama dengan kondisi pada jam berikutnya.

“Alat kami real time, tiap jam bisa bervariasi. Kadang jam ini bagus, nanti jam berikutnya tidak. Tergantung kondisi udaranya,” bebernya.

Imbauan BMKG

Melihat kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat, terutama kelompok yang rentan terhadap paparan asap, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah juga dianjurkan menggunakan masker sebagai langkah perlindungan dari paparan udara yang kurang baik.

“Kalau kita melihat kondisinya seperti ini, kualitas udara kita sudah dari sedang hingga tidak sehat. Yang rentan terhadap asap sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah. Kalau harus keluar, menggunakan masker,” tegasnya.

Kendati kondisi cuaca dan kualitas udara sedang menjadi perhatian, Riza menegaskan, kegiatan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang sedang dilakukan bukan menjadi penyebab bertambahnya kabut atau asap.

OMC justru dilakukan untuk membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan. Sehingga diharapkan dapat membantu mengurangi dampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

“Kegiatan OMC tidak menambah kabut. Justru kegiatan kami bagaimana caranya menurunkan hujan untuk mengurangi asap,” imbuhnya.

Riza menambahkan, kondisi kualitas udara dan jarak pandang tidak dapat dipastikan akan berlangsung dalam durasi tertentu. Perubahannya sangat bergantung pada kondisi angin, tutupan awan, hujan, serta sumber asap di wilayah sekitar.

“Jadi sangat bervariasi, tergantung kondisi udaranya,” pungkasnya. (*)

Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana