Kaltim.akurasi.id, Tenggarong – Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengembangkan inovasi lantai jemur portable untuk membantu petani meningkatkan kualitas hasil panen. Teknologi pengeringan ini terinspirasi dari metode penjemuran garam di sejumlah daerah di Jawa Timur yang kemudian dimodifikasi agar sesuai dengan kebutuhan sektor pertanian.
Kepala Disketapang Kukar, Ananias, menjelaskan bahwa inovasi tersebut berawal dari pengamatan terhadap teknologi penjemuran air laut untuk menghasilkan garam di Gresik dan Sidoarjo, Jawa Timur. Teknologi itu kemudian diadaptasi menjadi fasilitas pengeringan yang dapat dimanfaatkan petani, khususnya untuk menjemur gabah.
“Lantai jemur portable ini sebenarnya program inovasi Dinas Ketahanan Pangan Kukar. Kami melihat teknologi penjemuran garam di Gresik dan Sidoarjo, kemudian mencoba memodifikasinya menjadi teknologi tepat guna untuk menjemur gabah,” katanya.
Seiring dengan pengembangannya, lantai jemur portable dinilai memiliki potensi pemanfaatan yang lebih luas. Selain gabah, fasilitas ini dapat digunakan untuk mengeringkan berbagai komoditas pertanian dan hasil perikanan, seperti jagung, kopi, kakao, rumput laut, hingga ikan asin.
“Setelah berjalan, ternyata ini bukan hanya untuk menjemur gabah. Bisa juga digunakan untuk jagung, kopi, kakao, rumput laut, sampai ikan asin. Jadi, pemanfaatannya cukup luas,” ujarnya.
Meski memiliki beragam potensi penggunaan, Disketapang Kukar masih memprioritaskan pemanfaatan fasilitas tersebut untuk pengeringan gabah. Langkah ini diarahkan untuk membantu petani menjaga kualitas hasil panen, terutama pada tahap pascapanen yang membutuhkan fasilitas pengeringan memadai.
“Fokus kita saat ini adalah penjemuran gabah. Kita ingin fasilitas ini bisa membantu masyarakat supaya hasil panen yang mereka peroleh memiliki kualitas yang lebih baik,” jelasnya.
Untuk memperluas pemanfaatannya, Disketapang Kukar menargetkan pengadaan 500 unit lantai jemur portable hingga 2029. Dari target tersebut, sebanyak 104 unit telah tersedia melalui pengadaan pada 2025 dan diprioritaskan bagi kawasan sentra produksi pertanian.
“Target kita 500 unit sampai 2029. Untuk pengadaan 2025, sudah ada 104 unit yang kita siapkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat, terutama di daerah sentra produksi,” ungkap Ananias.
Menurutnya, salah satu keunggulan lantai jemur portable terletak pada fleksibilitas pemasangan. Berbeda dengan lantai jemur permanen yang membutuhkan lahan tetap, fasilitas ini dapat dibongkar pasang dan dipindahkan sesuai kebutuhan.
Fleksibilitas tersebut juga dinilai dapat mempermudah penyediaan fasilitas pengeringan bagi petani karena tidak harus bergantung pada ketersediaan lahan hibah dari masyarakat.
“Yang paling penting, lantai jemur portable ini tidak perlu tanah hibah. Kalau membangun lantai jemur permanen, kita harus meminta lahan kepada masyarakat, dan itu terkadang tidak mudah,” tuturnya.
Dari sisi anggaran, biaya pengadaan satu unit lantai jemur portable disebut berada di bawah Rp50 juta. Disketapang Kukar juga berencana mengevaluasi ukuran fasilitas tersebut agar lebih fleksibel dan mudah ditempatkan di sekitar area pertanian.
Sebelumnya, lantai jemur portable memiliki ukuran sekitar 4 x 25 meter. Ke depan, ukurannya berpeluang diperkecil menjadi 4 x 15 meter sehingga dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan petani.
“Ukuran sebelumnya sekitar 4×25 meter. Nanti mungkin kita buat lebih kecil, misalnya 4×15 meter, supaya lebih fleksibel dan bisa ditempatkan di pematang atau lahan kosong di sekitar petani,” pungkasnya. (Adv/diskominfokukar/dn)
Penulis: Devi Nila Sari
Editor: Dirhanuddin