Kaltim.akurasi.id, Bontang – Kalimantan Timur dikenal sebagai rumah bagi berbagai satwa endemik yang tidak ditemukan di banyak tempat lain di dunia. Selain Pesut Mahakam dan orangutan Kalimantan, provinsi ini juga menyimpan kekayaan fauna yang kurang dikenal masyarakat, yaitu Jakai atau katak kepala pipih. Hewan amfibi ini menjadi salah satu spesies paling unik di Pulau Kalimantan karena memiliki bentuk tubuh yang berbeda dari katak pada umumnya serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sungai yang berarus deras.
Dalam dunia ilmiah, Jakai memiliki nama latin Barbourula kalimantanensis. Spesies ini termasuk dalam famili Bombinatoridae dan merupakan satu-satunya spesies katak yang diketahui tidak memiliki paru-paru. Penemuan tersebut mengejutkan para ilmuwan karena hampir seluruh amfibi bernapas menggunakan paru-paru dan kulit. Pada Jakai, seluruh kebutuhan oksigen dipenuhi melalui permukaan kulitnya yang tipis.
Sesuai namanya, Jakai memiliki kepala yang pipih dengan tubuh yang juga cenderung datar. Bentuk ini menjadi adaptasi alami agar tubuhnya tidak mudah terbawa arus sungai yang deras. Warna tubuhnya didominasi cokelat tua hingga kehitaman dengan bercak-bercak yang menyerupai batu sungai sehingga memberikan kamuflase yang sangat baik.
Ukuran tubuh Jakai relatif kecil. Katak dewasa umumnya memiliki panjang sekitar 7–8 sentimeter. Kaki belakangnya cukup kuat untuk membantu bergerak di dasar sungai berbatu, sementara jari-jarinya memiliki selaput yang mendukung aktivitas di dalam air. Berbeda dengan sebagian besar katak yang sering terlihat melompat di daratan, Jakai hampir seluruh hidupnya berada di dasar sungai. Satwa ini lebih banyak berjalan atau merayap di antara bebatuan dibandingkan melompat.
Habitat utama Jakai adalah sungai-sungai kecil yang jernih, dingin, berarus deras, dan berbatu di kawasan hutan hujan Pulau Kalimantan. Spesies ini hanya dapat bertahan hidup pada perairan dengan kadar oksigen tinggi dan kualitas air yang sangat baik.
Di Indonesia, Jakai ditemukan di beberapa wilayah Kalimantan, termasuk kawasan hutan di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan sebagian Kalimantan Barat. Keberadaannya sangat bergantung pada kondisi hutan primer yang masih utuh karena kerusakan hutan akan langsung memengaruhi kualitas sungai tempat hidupnya. Karena sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, keberadaan Jakai sering dijadikan indikator kesehatan ekosistem sungai di Kalimantan.
Jakai merupakan hewan nokturnal atau lebih aktif pada malam hari. Makanannya terdiri atas berbagai hewan kecil yang hidup di dasar sungai, seperti larva serangga, udang kecil, cacing air, dan invertebrata lainnya. Kemampuan menyamar membuatnya mudah bersembunyi dari predator. Saat siang hari, katak ini biasanya berdiam di sela-sela batu atau di bawah bebatuan besar yang berada di dasar sungai.
Hingga kini, belum terdapat angka pasti mengenai jumlah populasi Jakai di alam liar. Satwa ini sangat sulit ditemukan karena habitatnya terbatas, perilakunya yang tersembunyi, serta hanya hidup pada lokasi-lokasi tertentu yang masih memiliki kualitas lingkungan sangat baik. Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), Barbourula kalimantanensis berstatus Endangered (Terancam Punah). Penurunan kualitas habitat akibat penebangan hutan, pertambangan, sedimentasi sungai, serta pencemaran air menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hidup spesies ini. Perubahan sedikit saja pada kualitas air dapat menyebabkan Jakai kehilangan habitat karena sistem pernapasannya yang bergantung penuh pada kulit membutuhkan air yang bersih dan kaya oksigen.
Jakai menjadi perhatian dunia setelah para peneliti memastikan bahwa spesies ini merupakan satu-satunya katak tanpa paru-paru yang diketahui hidup secara alami. Tidak adanya paru-paru diduga membantu tubuhnya tetap ringan dan memudahkannya bertahan di dasar sungai yang berarus deras. Keunikan tersebut menjadikan Jakai sebagai salah satu objek penelitian penting dalam bidang evolusi, fisiologi hewan, dan adaptasi amfibi terhadap lingkungan ekstrem. (*)
Penulis: Rosi
Editor: Suci Surya Dewi