Kaltim.akurasi.id, Bontang – Jika berbicara tentang wisata alam Kalimantan Timur, nama Pulau Kakaban hampir selalu masuk dalam daftar destinasi terbaik. Pulau yang berada di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau ini terkenal hingga mancanegara berkat keberadaan danau purba yang dihuni ribuan ubur-ubur tidak menyengat. Fenomena alam tersebut sangat langka karena hanya ditemukan di sedikit tempat di dunia.
Keunikan Pulau Kakaban bukan hanya terletak pada danaunya, tetapi juga bentang alam berupa tebing karst, hutan tropis, hutan mangrove, serta ekosistem laut yang masih terjaga. Kombinasi tersebut menjadikan Kakaban sebagai salah satu kawasan konservasi sekaligus destinasi wisata favorit bagi pencinta alam dan penyelam.
Pulau Kakaban berada di Kampung Payung-Payung, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Pulau ini merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Derawan bersama Pulau Derawan, Maratua, dan Sangalaki.
Luas Pulau Kakaban mencapai sekitar 774,2 hektare, dan sekitar 80 persen wilayahnya didominasi oleh sebuah danau air payau yang terbentuk ribuan tahun lalu akibat pengangkatan dasar laut. Nama “Kakaban” sendiri berasal dari bahasa setempat yang berarti “memeluk”, menggambarkan bentuk pulau yang seolah memeluk danau di bagian tengahnya.
Daya tarik utama Pulau Kakaban adalah Danau Kakaban atau lebih dikenal sebagai Danau Ubur-Ubur. Danau ini memiliki luas sekitar 400 hektare dan merupakan danau air asin terbesar di dunia yang menjadi habitat ubur-ubur tidak menyengat.
Di dalam danau hidup empat spesies ubur-ubur, yaitu:
- Mastigias cf. albipunctatus (Golden Jellyfish)
- Aurelia sp. (Moon Jellyfish)
- Cassiopea sp. (Upside-down Jellyfish)
- Tripedalia sp. (Box Jellyfish berukuran kecil)
Selama ribuan tahun hidup terisolasi tanpa predator alami, ubur-ubur di Danau Kakaban mengalami evolusi sehingga kemampuan menyengatnya hampir hilang. Karena itu wisatawan dapat berenang bersama ribuan ubur-ubur tersebut tanpa khawatir terkena sengatan, selama tetap mematuhi aturan konservasi.
Pulau Kakaban merupakan laboratorium alam yang menarik bagi para ilmuwan. Danau di tengah pulau terbentuk dari campuran air laut yang merembes melalui batuan karst dan air hujan, menghasilkan air payau dengan karakteristik berbeda dari laut maupun danau biasa.
Di sekitar danau tumbuh hutan mangrove yang lebat, sementara daratan pulau didominasi hutan hujan tropis dan tebing batu kapur. Selain ubur-ubur, kawasan ini menjadi habitat berbagai ikan, kepiting, spons laut, teripang, moluska, serta vegetasi pesisir yang beradaptasi dengan lingkungan air payau.
Berenang bersama ubur-ubur merupakan aktivitas yang paling dicari wisatawan. Namun, terdapat sejumlah aturan yang harus dipatuhi, seperti tidak menggunakan sirip (fin), tidak menyentuh ubur-ubur, serta tidak memakai tabir surya sebelum masuk ke danau agar ekosistem tetap terjaga.
Selain itu, wisatawan dapat menikmati snorkeling dan diving di perairan sekitar Pulau Kakaban. Dinding karang (wall diving) di sisi luar pulau terkenal memiliki terumbu karang yang sehat serta menjadi habitat berbagai ikan karang, barracuda, penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), hingga hiu sirip putih karang (Triaenodon obesus).
Pulau Kakaban termasuk dalam kawasan konservasi Kepulauan Derawan yang dikelola sebagai Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K). Status tersebut bertujuan menjaga kelestarian ekosistem dan mencegah kerusakan akibat aktivitas manusia maupun pariwisata yang berlebihan.
Karena nilai ekologinya yang tinggi, jumlah ubur-ubur di danau tidak dihitung secara pasti. Populasinya berubah mengikuti kondisi lingkungan, kualitas air, dan musim. Oleh sebab itu, seluruh aktivitas wisata dilakukan dengan prinsip konservasi agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
Musim kemarau, sekitar April hingga Oktober, menjadi waktu terbaik mengunjungi Pulau Kakaban. Pada periode ini cuaca relatif cerah, gelombang laut lebih tenang, dan visibilitas bawah air sangat baik sehingga cocok untuk snorkeling maupun diving. (*)
Penulis: Rosi
Editor: Suci Surya Dewi