Kaltim.akurasi.id, Jakarta – Tiga calon manajer Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil).
Berdasarkan keterangan dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, tiga calon manajer tersebut berasal dari tiga daerah yang berbeda. Menjalani pelatihan militer merupakan salah satu syarat dalam proses perekrutan KDKMP dan KNMP.
Penyebab Kematian Tiga Calon Manajer Kopdes
Peserta latsar pertama yang meninggal dunia adalah Anisa Muyassaroh. Yang bersangkutan merupakan peserta latihan militer di Satuan Pendidikan dan Kejuruan Resimen Induk Daerah Militer (Satdik Didikjur Rindam) VI/Mulawarman, Balikpapan.
Anisa Muyassaroh dinyatakan meninggal dunia usai mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 akibat heat stroke (sengatan panas) serta henti jantung.
Heat stroke adalah kondisi gawat darurat akibat paparan suhu panas ekstrem. Kondisi ini terjadi saat suhu inti tubuh melonjak drastis dan sistem pengaturan suhu tubuh gagal berfungsi.
Kedua, Yonanda Muhammad Taufiq yang mengikuti pelatihan militer di Satuan Pendidikan Pusat Latihan Tempur (Satdik Puslatpur) Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklatad), Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan.
Yonanda mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni 2026 sebelum dirujuk ke rumah sakit dan akhirnya meninggal dunia. Berdasarkan keterangan medis, Yonanda dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest atau henti jantung.
Ketiga, Novia Rahmadhani Sihotang yang meninggal usai mengikuti latihan militer di Satuan Pendidikan Pusbahasa Kodiklatau, Jakarta, pada Selasa 23 Juni 2026.
Novia sempat mengalami gangguan kesehatan pada 22 Juni 2026 dan dilarikan ke rumah sakit. Yang bersangkutan diketahui memiliki riwayat tuberculosis.
Kepala Biro Informasi Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait menyampaikan turut berduka cita atas meninggalnya tiga peserta tersebut.
“Kementerian Pertahanan menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya 3 peserta Program SPPI,” kata Rico dalam keterangan tertulis sebagaimana melansir Kompas, Kamis (25/6/2026).
Rico menuturkan, sebelum mengikuti program pelatihan militer dasar tersebut, peserta telah melalui tahapan seleksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, termasuk pemeriksaan kesehatan.
Meski demikian, Kemhan memastikan akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan latsarmil guna meningkatkan aspek keselamatan dan pengawasan kesehatan peserta.
“Saat ini Kemhan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan terus melakukan evaluasi dan penguatan pengawasan kesehatan peserta. Guna memastikan keselamatan dan kesehatan peserta tetap menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program,” ujar Rico.
Telan Korban, Pelatihan Militer SPPI Tuai Kritik
Koalisi Masyarakat Sipil mengkritik pelatihan militer dalam program Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan usai kejadian meninggalnya calon manajer kopdes saat menjalani pelatihan militer.
“Kematian keduanya semakin menunjukkan tidak tepatnya sistem pendidikan militer diterapkan secara serampangan untuk warga sipil. Apalagi, tidak ada hubungan sama sekali antara profesionalisme kerja menjalankan tugas koperasi dengan pelatihan militer,” demikian pernyataan Koalisi Masyarakat Sipil sebagaimana melansir detik.co, Rabu (24/6/2026).
Senada, Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin juga minta agar program pelatihan militer SPPI dievaluasi total. Hal ini disampaikan usai korban pelatihan militer program ini bertambah menjadi tiga orang.
“Kejadian ini harus menjadi bahan evaluasi serius bagi desain pelatihan yang diberikan kepada calon pengelola koperasi. Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama. Program yang bertujuan membangun kapasitas SDM tidak boleh mengorbankan aspek kesehatan dan keamanan peserta,” jelas dia. (*)
Penulis: Pewarta
Editor: Devi Nila Sari