Pasar Induk Penajam Kian Sepi, Pasar Tumpah dan Perubahan Pola Belanja jadi Tantangan

Pasar tumpah hingga perubahan pola belanja disebut menjadi tantangan bagi Pasar Induk Penajam. Pasalnya, masyarakat kini lebih memilih pola hidup praktis dengan berbelanja di pasar pinggir jalan atau pesan antar.
Devi Nila Sari
1.8k Views

Kaltim.akurasi.id, Penajam – Aktivitas perdagangan di Pasar Induk Penajam dinilai terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah faktor mulai dari menjamurnya pasar tumpah di pinggir jalan, kondisi ekonomi masyarakat, hingga perubahan pola belanja berbasis daring disebut menjadi penyebab berkurangnya jumlah pembeli yang datang ke pasar tradisional tersebut.

Kepala UPT Pasar Nenang, Yusriadi, mengatakan masyarakat kini lebih memilih berbelanja di pasar tumpah maupun pedagang yang berjualan di sepanjang jalan raya karena dinilai lebih praktis dan mudah dijangkau.

“Pengaruhnya besar sekali. Pegawai yang pulang kerja lebih memilih membeli kebutuhan di pinggir jalan. Mereka tidak perlu masuk ke dalam pasar. Apalagi sekarang orang menghitung biaya dan waktu, jadi yang dianggap lebih praktis itu yang dipilih,” kata Yusriadi.

Menurutnya, keberadaan pasar tumpah yang beroperasi hingga malam hari bahkan dini hari membuat Pasar Induk Penajam semakin sulit bersaing. Sementara aktivitas perdagangan di pasar umumnya hanya ramai hingga siang hari.

Selain itu, kondisi ekonomi yang belum stabil turut memengaruhi daya beli masyarakat. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok membuat sebagian warga mengurangi frekuensi belanja ke pasar.

“Situasi ekonomi seperti sekarang juga berpengaruh. Harga-harga naik dan masyarakat jadi lebih berhitung dalam membelanjakan uangnya,” ujarnya.

Perilaku Konsumen Sudah Berubah

Pasar Induk Penajam
Kepala UPT Pasar Nenang, Yusriadi. (Nelly/Akurasi.id)

Yusriadi menjelaskan, perubahan perilaku konsumen juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak masyarakat kini memilih memanfaatkan layanan pesan antar atau membeli kebutuhan secara daring tanpa harus datang langsung ke pasar.

“Sekarang masyarakat cukup telepon atau pesan lewat aplikasi, barang diantar ke rumah. Di satu sisi membantu jasa ojek, tetapi di sisi lain mengurangi kunjungan pembeli ke pasar,” katanya.

Di Pasar Induk Penajam sendiri terdapat lebih dari 700 lapak dan kios yang tercatat dimiliki pedagang. Namun, tidak seluruhnya aktif digunakan untuk berjualan setiap hari.

“Yang memegang lapak memang banyak, lebih dari 700. Tetapi yang benar-benar berjualan tidak semuanya. Pada hari pasar seperti Kamis dan Minggu tingkat keterisian paling tinggi sekitar 60 persen. Hari biasa bisa turun hingga sekitar 30 persen,” ungkapnya.

Komoditas yang masih mendominasi aktivitas perdagangan di pasar tersebut adalah sayuran, ikan, beras, dan kebutuhan pokok lainnya. Sementara lapak pakaian dan barang non-pangan cenderung sepi pengunjung.

Untuk meningkatkan daya tarik pasar, Yusriadi menilai diperlukan pengembangan fasilitas pendukung yang lebih lengkap, mulai dari layanan penggilingan daging, parutan kelapa, hingga kawasan perdagangan yang terintegrasi dengan toko elektronik, distributor sembako, dan pergudangan.

Ia juga mengusulkan agar kegiatan kuliner atau pusat jajanan yang selama ini digelar di lokasi lain dapat dipusatkan di kawasan pasar guna meningkatkan jumlah kunjungan masyarakat.

“Kalau kegiatan ekonomi dan kuliner dipusatkan di sini, tentu bisa menjadi nilai tambah bagi pasar. Yang penting jangan terpencar-pencar, karena kalau kegiatan dipecah di beberapa tempat, dampaknya tidak akan maksimal,” tuturnya.

Meski demikian, upaya revitalisasi pasar masih terkendala keterbatasan anggaran. Menurut Yusriadi, dana yang tersedia saat ini sebagian besar hanya cukup untuk kebutuhan operasional rutin dan pemeliharaan dasar fasilitas pasar.

“Kami berharap adanya dukungan pemerintah daerah untuk menciptakan inovasi dan fasilitas baru yang mampu menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di Pasar Induk Penajam sebagai salah satu pusat ekonomi masyarakat di Kabupaten PPU,” pungkasnya. (*)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana