Kaltim.akurasi.id, Samarinda — Aksi unjuk rasa 21 April 2026 atau yang dikenal sebagai aksi 214 memang telah berakhir. Namun, sejumlah peristiwa yang terjadi di baliknya masih menjadi perbincangan publik hingga kini.
Aksi yang dipusatkan di Kantor Gubernur dan Gedung
Foto: Situasi demo. (Akurasi.id)
ini menyisakan sejumlah catatan menarik. Berikut empat di antaranya:
1. Dua Pimpinan Bersaudara Sama-sama Tak Temui Massa
Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, dan Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud, yang merupakan kakak beradik, sama-sama tidak menemui demonstran.
Kondisi ini kembali memicu sorotan publik terkait potensi konflik kepentingan dan efektivitas fungsi pengawasan legislatif terhadap eksekutif. Terlebih, dalam satu tahun terakhir, sejumlah kebijakan anggaran Pemprov Kaltim menjadi perhatian, seperti pengadaan mobil dinas senilai Rp8,5 miliar dan renovasi rumah jabatan sekitar Rp25 miliar.
Isu tersebut menjadi bagian dari tuntutan massa. Namun hingga aksi berakhir, keduanya tidak muncul di hadapan demonstran.
2. Diduga Memantau dari Dalam Gedung
Di tengah berlangsungnya aksi, beredar foto seorang pria mengenakan pakaian dinas dan peci hitam yang terlihat memantau situasi dari lantai atas Kantor Gubernur.
Meski gambar tersebut tidak jelas karena diambil dari jarak jauh, sejumlah warganet menduga sosok tersebut adalah Rudy Mas’ud. Dugaan ini menguat karena kesamaan pakaian dengan yang dikenakan saat ia terlihat keluar dari kantor gubernur menuju rumah jabatan.
3. Bungkam di Lapangan, Respons Muncul di Instagram
Usai aksi berakhir, Rudy Mas’ud sempat terlihat keluar dari Kantor Gubernur. Namun, ia tidak memberikan keterangan kepada awak media yang telah menunggu di lokasi.
Pada hari yang sama, ia justru menyampaikan respons melalui akun Instagram pribadinya dengan mengapresiasi peserta aksi dan aparat keamanan.
4. Istighosah Jelang Demo Tuai Reaksi Beragam
Sehari sebelum aksi, Pemprov Kaltim menggelar istighosah dengan tujuan mendoakan situasi daerah tetap kondusif.
Namun, kegiatan tersebut menuai beragam respons di media sosial. Salah satunya dipicu oleh beredarnya visual baliho yang menampilkan pimpinan daerah dengan latar aktivitas ibadah, yang kemudian memancing kritik dari warganet.
Empat peristiwa tersebut menjadi bagian dari dinamika yang mewarnai aksi 214. Meski demonstrasi telah usai, sejumlah isu yang diangkat massa masih menjadi perhatian publik dan berpotensi berlanjut dalam diskursus kebijakan di daerah. (*)
Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Redaksi Akurasi.id