Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Pengembangan desa wisata di Kalimantan Timur (Kaltim) memasuki tahap baru. Enam desa wisata di sejumlah kabupaten dan kota resmi menjalin kerja sama dengan mitra strategis untuk memperkuat pengembangan pariwisata, UMKM, ekonomi kreatif hingga perluasan akses pasar.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan kemitraan yang berlangsung bersamaan dengan pengumuman pemenang Lomba Desa Wisata tingkat Provinsi Kaltim di Panggung Kaltim Expo, Atrium Big Mall Samarinda, Kamis (20/8/2026).
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim Muhammad Faisal mengatakan, kerja sama tersebut merupakan bagian dari rencana pengembangan 13 desa wisata di Kaltim.
Dari target tersebut, satu desa wisata sebelumnya telah menjalin kemitraan, yakni Kampung Tenun Samarinda bersama Bank Indonesia. Kini, enam desa lainnya mulai memasuki tahap kerja sama dengan mitra strategis.
“Dari rencana 13 desa wisata, hari ini kita menandatangani kerja sama dengan enam desa. Sebelumnya sudah ada satu desa, yakni Kampung Tenun di Samarinda dengan Bank Indonesia. Setelah ini nanti akan ada enam desa lain melakukan akad,” kata Faisal.
Enam desa wisata yang menjalin kerja sama tersebut yakni Desa Wisata Klempang Sari di Kabupaten Paser, Desa Wisata Kang Bejo di Kota Balikpapan, Desa Wisata Rindang Benua di Kabupaten Kutai Timur, Kampung Wisata Batu Majang di Kabupaten Mahakam Ulu, Desa Wisata Tanjung Isuy di Kabupaten Kutai Barat, serta Desa Wisata Tanjung Batu di Kabupaten Berau.
Masing-masing desa menggandeng mitra yang berbeda. Desa Wisata Klempang Sari bekerja sama dengan PT Kideco Jaya Agung. Desa Wisata Kang Bejo menggandeng PT PLN Nusantara Power Unit Kaltimra Balikpapan.
Sementara Desa Wisata Rindang Benua bermitra dengan PT Kaltim Prima Coal. Kampung Wisata Batu Majang menggandeng Bankaltimtara Cabang Mahakam Ulu.
Adapun Desa Wisata Tanjung Isuy menjalin kerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Timur dan PT Pegadaian Area Samarinda. Sedangkan Desa Wisata Tanjung Batu menggandeng PT Migas Mandiri Pratama.
Faisal menjelaskan, kerja sama dengan mitra strategis tidak hanya diarahkan pada pembangunan destinasi wisata. Kemitraan tersebut juga mencakup pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif, penguatan produk unggulan, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata hingga promosi dan perluasan akses pasar.
“Para mitra sudah pula bersepakat untuk membantu antara lain pengembangan desa wisata, mengembangkan UMKM dan ekonomi kreatif, produk unggulan, HKI, peningkatan kualitas SDM pariwisata, promosi dan perluasan akses pasar atau hal lain yang disepakati,” jelasnya.
Menurut Faisal, pola kemitraan tersebut diharapkan membuat pengembangan desa wisata berjalan lebih cepat, terarah dan berkelanjutan.
Pemerintah daerah, melalui Dinas Pariwisata provinsi, kabupaten dan kota, akan berperan sebagai pengarah sekaligus melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap pelaksanaan program.
Dengan demikian, kerja sama yang telah disepakati dapat berjalan sesuai tujuan dan memberikan dampak langsung terhadap masyarakat di desa wisata.
Libatkan Akademisi dan Media
Faisal mengatakan, keberhasilan pengembangan desa wisata membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Karena itu, pemerintah tidak hanya mengandalkan pemerintah daerah dan mitra strategis, tetapi juga akan melibatkan akademisi serta insan pers.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari pendekatan hexahelix, yang diharapkan dapat memperkuat pengembangan pariwisata berbasis potensi lokal.
“Tentu saja kami sangat berterima kasih kepada seluruh mitra strategis atas terwujudnya program kemitraan ini. Kami juga akan melibatkan aktif para akademisi dan insan pers sebagai bagian dari hexahelix untuk mendukung kegiatan,” ujar Faisal.
Dengan adanya kolaborasi tersebut, Pemprov Kaltim berharap desa wisata tidak hanya berkembang sebagai destinasi kunjungan, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui UMKM, ekonomi kreatif dan produk unggulan daerah. (*)
Penulis: Redaksi Akurasi.id