Kemarau Panjang Ancam Produksi Padi PPU, Potensi Kehilangan Hasil Capai 3.000 Ton!

Kemarau yang masih berlangsung hingga saat ini menjadi ancaman nyata atas gagal panen yang dialami petani. Kondisi itu berdampak pada potensi kehilangan hasil panen petani yang mencapai ribuan ton.
kaltim_akurasi
8.8K Views

Kaltim.akurasi.id, Penajam – Produksi padi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menghadapi risiko penurunan akibat kemarau panjang yang berlangsung di tengah ancaman fenomena El Nino. Potensi gagal panen kini benar-benar tengah menghantui para petani di daerah tersebut.

Meski produksi hingga Agustus 2026 masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Walau begitu, menyusutnya luas tanaman padi yang masih berada di lahan menjadi perhatian Dinas Pertanian PPU.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Dinas Pertanian PPU, Gunawan, mengatakan produksi padi hingga Agustus 2026 tercatat sekitar 45.300 ton. Jumlah tersebut meningkat sekitar 2.500 ton dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 42.800 ton.

Namun, capaian tersebut belum menjamin produksi sepanjang tahun ini akan tetap meningkat. Sebab, luas tanaman padi yang masih berada di lahan atau standing crop pada Oktober 2026 jauh lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pada 2025, kita masih punya standing crop pada Oktober seluas 1.350 hektare. Sementara pada 2026 hanya 242,5 hektare. Itu pun dikurangi puso sebanyak 80 hektare,” ungkap Gunawan.

Kondisi tersebut membuat potensi kehilangan produksi padi di PPU diperkirakan mencapai 2.000 hingga 3.000 ton. Perkiraan itu masih bergantung pada perkembangan tanaman yang tersisa, hasil panen berikutnya, serta kondisi cuaca hingga akhir tahun.

Gunawan menyebut, pihaknya masih menunggu laporan panen secara keseluruhan untuk memperoleh gambaran lebih pasti mengenai capaian produksi padi sepanjang 2026.

“Mudah-mudahan tidak terjadi. Sekalipun El Nino, harapannya penurunan produksi tidak terlalu drastis. Yang sudah di tangan sekarang sekitar 45.300 ton,” ujarnya.

Ancaman kekeringan menjadi perhatian karena tanaman padi membutuhkan ketersediaan air yang memadai, terutama pada fase pertumbuhan dan pembentukan bulir. Kekurangan air dapat menghambat pertumbuhan tanaman, mengurangi jumlah bulir berisi, hingga menyebabkan gagal panen pada lahan yang mengalami kekeringan berat.

Situasi ini juga menuntut petani menyesuaikan jadwal tanam dengan ketersediaan air. Pengaturan waktu tanam, pemanfaatan sumber air yang masih tersedia, serta pemantauan kondisi lahan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kehilangan hasil.

Gunawan menjelaskan, Dinas Pertanian PPU telah memberikan peringatan kepada petani sejak Desember 2025. Langkah itu kemudian ditindaklanjuti melalui surat kepala Dinas Pertanian pada Maret 2026 terkait antisipasi kondisi El Niño yang diperkirakan memengaruhi kegiatan pertanian.

Meski demikian, dampak kemarau terhadap produksi akhir tahun masih perlu dicermati. Luas tanaman yang tersisa dan realisasi panen menjadi faktor penting untuk mengetahui seberapa besar pengaruh cuaca terhadap produksi padi di daerah tersebut.

Gunawan menegaskan, data produksi yang dimiliki dinas merupakan data pelaporan rutin kepada Kementerian Pertanian dan Dinas Pangan Provinsi Kalimantan Timur.

“Adapun angka final produksi padi akan mengacu pada hasil pendataan dan penghitungan Badan Pusat Statistik (BPS),” tandasnya. (adv/diskominfoppu/mz)

Editor: Devi Nila Sari

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana