Ketimpangan Ekonomi di Kaltim Naik Tipis, Perkotaan Catat Gini Ratio Tertinggi

Fajri
By
1.1k Views

Ketimpangan ekonomi di Kalimantan Timur mengalami kenaikan tipis pada Maret 2025. Gini ratio tercatat sebesar 0,312, tertinggi terjadi di wilayah perkotaan, menurut data BPS Kaltim.

Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur mencatat ketimpangan ekonomi di wilayah ini mengalami fluktuasi selama lima tahun terakhir, sejak Maret 2020 hingga Maret 2025.

Setelah mengalami tren penurunan pada periode Maret 2023 hingga September 2024, angka ketimpangan atau gini ratio kembali meningkat pada Maret 2025.

Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana, menyampaikan bahwa nilai gini ratio Kalimantan Timur per Maret 2025 tercatat sebesar 0,312. Angka ini naik 0,002 poin dibandingkan September 2024 yang berada di angka 0,310.

“Kalau ditinjau berdasarkan wilayah tempat tinggal, ketimpangan ekonomi paling besar terjadi di daerah perkotaan,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor BPS Kaltim, belum lama ini.

Gini ratio di wilayah perkotaan mencapai 0,316 atau naik tipis 0,001 poin dari September 2024 yang sebesar 0,315. Sementara di perdesaan, angkanya tercatat sebesar 0,287 pada Maret 2025, meningkat 0,005 poin dari periode sebelumnya (0,282).

Selain gini ratio, Yusniar juga menjelaskan ukuran ketimpangan yang digunakan Bank Dunia, yakni berdasarkan persentase pengeluaran kelompok 40 persen penduduk terbawah.

Menurut Bank Dunia, ketimpangan tergolong:

  • Tinggi: jika persentase pengeluaran kelompok 40% terbawah < 12%
  • Sedang: antara 12%–17%
  • Rendah: jika di atas 17%

“Pada Maret 2025, persentase pengeluaran kelompok 40 persen terbawah di Kaltim sebesar 21,76 persen. Artinya, tingkat ketimpangan di provinsi ini masih tergolong rendah,” jelasnya.

Namun, angka tersebut menurun dibandingkan September 2024 yang mencapai 22,12 persen.

Jika dirinci, di wilayah perkotaan persentase pengeluaran kelompok 40 persen terbawah sebesar 21,53 persen. Sementara di perdesaan tercatat lebih tinggi, yakni 22,87 persen.

“Dengan demikian, berdasarkan kriteria Bank Dunia, ketimpangan di wilayah perkotaan maupun perdesaan di Kalimantan Timur masih masuk kategori rendah,” tutupnya. (Adv/diskominfokaltim/yed)

Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Redaksi Akurasi.id

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menu Vertikal
Menu Sederhana
#printfriendly .related-sec { display: none !important; } .related-sec { display: none !important; } .elementor-2760 .elementor-element.elementor-element-0f8b039 { --display: none !important; } .elementor-2760 { display: none !important; }