Disdikbud Kaltim ingin setiap pelajar ikut terlibat dalam menekan angka stunting. Misalnya, dengan menyiapkan pelajar peduli stunting. Harapannya, dengan kehadiran pelajar peduli stunting, akan membuka kesadaran setiap pelajar akan persoalan itu.
Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Hingga saat ini Pemprov Kaltim terus berupaya untuk menekan angka stunting, sebab saat ini telah menyentuh persentase sebesar 22,8 persen dari angka kelahiran. Sehingga seluruh stakeholder perlu dilibatkan langsung dalam rangka penurunan angka stunting. Peran ini juga turut diambil oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kaltim.
Melalui Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMA, Disdikbud Kaltim Mispoyo, para pelajar di tingkat SMA sederajat dipastikan akan mendapat sosialisasi mengenai stunting. Sebab sasarannya memang untuk para remaja yang duduk di bangku tingkat SMA.
“Makanya saya nanti mengambil tema Pelajar Penting atau peduli stunting. Jadi yang penting itu tidak hanya para pejabat tetapi pelajar pun juga penting, untuk mengetahui stunting,” ujar Mispoyo.
Ia pun menekankan dalam agenda sosialisasi itu nantinya sangat mengharapkan peranana dari media, untuk menggaungkan pentingnya seluruh masyarakat mengetahui stunting. Yaitu kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah 5 tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.
“Karena angka stunting di Indonesia 24 persen, itu seketika ada 100 anak yang lahir, ada 24 anak yang stunting, itu sangat mengerikan. Sedangkan di Kaltim ada 22,8 persen,” ungkapnya.
Pelajar Peduli Stunting Upaya Disdikbud Kaltim Menekan Kasus Stunting Sejak Dini
Sehingga sosialisasi ini sasaran utamanya ada adalah calon pengantin (catin) yang harus dibekali dengan langkah pencegahan stunting. Dalam hal ini hilirnya adalah balita, ibu- menyusui, yang menjadi urusan Dinas Kesehatan. Sementara dihulunya adalah para pelajar atau usia pelajar yang menikah dini.
“Memang selama ini sudah ada upaya, tapi belum maksimal. Nah dari hulu inilah pelajar-pelajar harus dibekali dengan ilmu stunting, bagaimana dia menambah darah, karena ciri stunting itu akibat dia menikah dan kekurangan hemoglobin sehingga mengakibatkan bayi lahir stunting dan itu harus kita ajari,” urai Mispoyo.
Ia memastikan agenda sosialisasi ini akan menyasar ke seluruh sekolah tingkat SMA sederajat di seluruh kabupaten/kota di Kaltim. Sebab ia meyakini Disdikbud Kaltim memiliki peranan penting untuk menurunkan angka stunting.
“Kita akan bentuk komunitas pelajar penting, saya berharap nanti bisa menasional. Ini menjadi salah satu langkah Disdik untuk menekan angka stunting, karena masuk tim percepatan penurunan stunting,” demikian Mispoyo. (adv/disdikbudkaltim/gzy)
Editor: Redaksi Akurasi.id