Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Kemarau panjang mulai meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim). Kekeringan lahan dan menurunnya ketersediaan air bersih menjadi perhatian pemerintah, menyusul meningkatnya jumlah kejadian kebakaran dalam beberapa bulan terakhir.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat 242 lokasi kebakaran sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 118 lokasi terjadi hanya selama Agustus.
Ancaman karhutla juga terlihat di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Kebakaran yang terjadi di Kelurahan Sepan, Kecamatan Penajam, pada Rabu (19/8/2026), menghanguskan sekitar 10,65 hektare lahan.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Kamis (20/8/2026), tercatat 1.487 titik panas (hotspot) tersebar di sejumlah wilayah Kalimantan.
Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 767 titik, disusul Kalimantan Barat sebanyak 560 titik. Kemudian Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing mencatat 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara sebanyak tiga titik.
Data hotspot tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu diwaspadai karena dapat menunjukkan potensi terjadinya kebakaran, meski tidak seluruh titik panas otomatis merupakan kejadian karhutla.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim. Staf Ahli Bidang III Pemprov Kaltim, Puguh Harjanto, mengatakan kemarau panjang tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga mulai memengaruhi kebutuhan dasar masyarakat, terutama ketersediaan air bersih.
Puguh menyampaikan hal tersebut setelah mengikuti salat istisqa di Masjid Nurul Mu’minin, Jalan Gunung Arjuna, Samarinda, Jumat (21/8/2026). Ia hadir mewakili Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud.
“Musim kemarau panjang yang kita hadapi telah memberikan dampak kepada masyarakat. Ketersediaan air bersih semakin terbatas, lahan mengalami kekeringan, dan risiko kebakaran hutan dan lahan juga meningkat,” kata Puguh.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu dihadapi melalui kesiapsiagaan teknis sekaligus kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Salat istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual yang dilakukan bersama masyarakat di tengah kondisi kemarau.
“Salat istisqa yang kita laksanakan bukan hanya tentang memohon turunnya hujan, tetapi juga menjadi momentum bagi kita untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, memperbaiki diri, memperbanyak doa dan ikhtiar, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.
Pemprov Pantau Perkembangan Titik Api
Di sisi lain, Pemprov Kaltim terus memantau perkembangan titik panas dan potensi karhutla sebagai bagian dari langkah pencegahan.
Kesiapsiagaan dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, BPBD hingga jajaran pemadam kebakaran.
“Tentu kita melihat perkembangannya sekarang, berapa titik api yang ada di Kalimantan Timur. Kita waspada dan juga melakukan antisipasi,” jelas Puguh.
Ia mengimbau pemerintah kabupaten dan kota di Kaltim turut mengambil langkah menghadapi dampak kemarau, termasuk melaksanakan salat istisqa di wilayah masing-masing.
“Iya, diimbau untuk seluruh kabupaten kiranya dapat melaksanakan,” katanya.
Menurut Puguh, kesiapsiagaan penting dilakukan mengingat kondisi lahan yang semakin kering dapat meningkatkan risiko kebakaran. Upaya pencegahan juga membutuhkan keterlibatan masyarakat agar aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran dapat dihindari.
Pemprov Kaltim berharap hujan segera turun sehingga kekeringan di sejumlah wilayah dapat teratasi. Selain membasahi lahan, hujan juga diharapkan mampu mengisi kembali cadangan air yang dibutuhkan masyarakat.
“Harapan kita semua, dengan salat istisqa ini diberikan hujan yang tidak hanya membasahi bumi kita, tapi juga menjadi cadangan air bersih,” jelasnya. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id