Kaltim.akurasi.id, Samarinda — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Betapus, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, menghanguskan sekitar 20,5 hektare lahan. Kebakaran terjadi selama dua hari, Sabtu hingga Minggu, dan sempat menyulitkan petugas karena lokasi titik api sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan rencana operasi water bombing untuk mendukung penanganan karhutla di kawasan tersebut.
Rencana itu disiapkan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Helikopter yang akan digunakan untuk operasi water bombing juga telah tiba di Bandara A.P.T. Pranoto Samarinda.
“Saya tadi sekitar jam 12 dihubungi dari BNPB langsung. Saat ini helikopter sudah sampai di APT Pranoto. Besok jam 10 saya ikut rapat untuk persiapan teknis penanganan,” ungkap Suwarso.
Menurut Suwarso, BNPB juga telah meminta data terkait kejadian karhutla di Samarinda. BPBD kemudian menyampaikan data tersebut dalam bentuk grafik dan infografis sebagai bahan untuk mempersiapkan penanganan.
Ia berharap operasi water bombing nantinya tidak hanya difokuskan pada pemadaman titik api, tetapi jika memungkinkan juga dapat membantu pemulihan lahan pertanian yang terdampak kebakaran.
“Kalau memungkinkan lahan pertanian bisa ikut dilakukan water bombing, itu juga akan mempercepat proses pengembalian fungsi sawah, bisa hidup tanah-tanah kembali. Sehingga petani juga bisa ikut merasakan manfaat dari water bombing,” tuturnya.
Karhutla Berlangsung Dua Hari
Kebakaran di kawasan Betapus terjadi selama dua hari. Pada Sabtu, api mulai muncul sekitar pukul 17.00 WITA dan berlangsung hingga pukul 03.00 WITA.
Kebakaran kembali terjadi pada Minggu sekitar pukul 12.00 WITA hingga pukul 21.00 WITA.
“Totalnya dua wilayah ini sekitar 20,5 hektare,” sebut Suwarso.
Api kemudian berhasil dikendalikan setelah relawan pemadam kebakaran melakukan penyekatan dari sejumlah sisi. Hingga Senin (7/9/2026), BPBD memastikan tidak lagi menemukan titik api. Meski demikian, potensi munculnya kembali kebakaran masih diwaspadai.
Suwarso menjelaskan, proses pemadaman di Betapus menghadapi sejumlah kendala. Titik api berada cukup jauh dari jalan utama sehingga kendaraan pemadam tidak dapat menjangkau lokasi secara langsung.
Petugas pun harus menarik lebih dari 12 rol selang untuk mengalirkan air hingga ke titik kebakaran.
Keterbatasan sumber air di sekitar lokasi turut menjadi kendala. Kondisi vegetasi berupa semak belukar yang mudah terbakar, lahan bagian bawah yang kering, serta angin kencang juga mempercepat penyebaran api dan menyulitkan proses pemadaman.
Suwarso mengingatkan pentingnya respons cepat ketika ditemukan api di kawasan rawan karhutla. Menurutnya, penanganan sejak awal dapat mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
“Kalau ada api kecil, teman-teman langsung melakukan tindakan pertama dan memberikan laporan ke BPBD selaku pos komando kedaruratan,” tandasnya. (*)
Penulis: Muhammad Zulkifli
Editor: Redaksi Akurasi.id