Kaltim.akurasi.id, Samarinda – Kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah pusat mulai berdampak pada industri perhotelan di Kalimantan Timur (Kaltim). Berkurangnya kegiatan pemerintah yang selama ini banyak digelar di hotel menyebabkan tingkat hunian kamar mengalami penurunan signifikan.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Kaltim, Hendri Kurniawan, mengatakan sektor perhotelan menjadi salah satu yang terdampak langsung akibat berkurangnya agenda pemerintah, seperti rapat, pelatihan, dan kegiatan kedinasan lainnya.
“Ketika kegiatan-kegiatan itu berkurang, tingkat okupansi hotel juga ikut menurun. Sekarang kami harus mencari pasar penggantinya,” ujarnya saat diwawancarai awak media di Samarinda, beberapa hari lalu.
Menurut Hendri, selama ini pasar pemerintah menjadi salah satu penyumbang utama pendapatan hotel di Kalimantan Timur. Karena itu, penurunan aktivitas tersebut turut memengaruhi tingkat hunian hotel.
Untuk menjaga keberlangsungan usaha, pelaku industri kini berupaya memperluas pasar nonpemerintah. Berbagai kegiatan sosial dan komunitas mulai dibidik, seperti pesta pernikahan, perayaan ulang tahun, pertemuan paguyuban, hingga penyelenggaraan kegiatan berskala nasional.
Meski demikian, berbagai strategi tersebut belum mampu mengembalikan tingkat okupansi seperti sebelumnya. Saat ini, rata-rata tingkat hunian hotel di Kaltim masih berada di kisaran 50 persen, bahkan sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Karena itu, kami berharap pemerintah dapat memperbanyak penyelenggaraan event nasional maupun regional di Kalimantan Timur,” katanya.
Menurut Hendri, penyelenggaraan berbagai kegiatan berskala besar tidak hanya menguntungkan industri perhotelan, tetapi juga memberikan efek berganda terhadap perekonomian daerah.
Ia menjelaskan, operasional hotel melibatkan banyak sektor pendukung, mulai dari petani, peternak, pemasok bahan pangan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Kalau hotel sepi, semuanya ikut terdampak. Jadi yang harus dilihat bukan hanya hotelnya, tetapi juga ekosistem ekonomi yang ada di belakangnya,” jelasnya. (*)
Penulis: Yasinta Erikania Daniartie
Editor: Redaksi Akurasi.id